Thursday, 10 September 2015

Mencari Damai Di Ranu Kumbolo-nya Batang, Telaga Dringo

Telaga Dringo yang juga biasa disebut Ranu Kumbolo-nya Batang, mungkin masih asing ditelinga sebagian orang. Jangankan orang dari luar Pekalongan, Batang, dan Banjarnegara. Bagi mereka yang tinggal ditiga daerah itu saja masih sedikit yang tahu tentang tempat ini. Berawal dari internet saya tahu tentang tempat ini, dan bulan Juni kemarin saya berkesempatan untuk mendatangi tempat ini sendirian. Iya sendiri, gak ada temen sama sekali. Setelah mencari info tentang rute ke tempat ini akhirnya saya pun nekat untuk ke sana.

Dari rumah saya hanya memerlukan waktu sekitar 3 jam saja, tidak terlalu jauh memang. Kebetulan rumah saya ada di daerah Kecamatan Doro yang masuk wilayah Kabupaten Pekalongan. Dari Doro saya mengambil rute arah Bandar lalu Kembang Langit dan Gerlang yang sudah masuk kabupaten Batang. Telaga Dringo sendiri berada di perbatasan Gerlang (kab. Batang) dan Batur (kab. Banjarnegara). Sebenarnya bisa saja kalau kita lewat jalur Paninggaran – Batur yang jalannya sudah bagus, tapi itu akan memakan waktu yang lumayan lama karena kita harus memutar.

Berikut rute singkat dari Doro menuju Telaga Dringo: Doro – Wonotunggal – Bandar (pertigaan ponpes Tazaka kita ambil arah Kambangan) lalu menuju Kembanglangit. Disini jalan masih relatif bagus, tapi begitu sampai di penghujung desa Kembanglagit jalan sudah mulai rusak.

Keadaan jalan di kawasan Alas Kluwung
                        
Ikuti saja jalan itu sampai di desa Gerlang yang ditandai adanya SD Negeri Gerlang yang sekaligus jadi SMP Satu Atap, didekat sekolahan ada pertigaan lalu kita belok kiri. Sampai disini jalannya lumayan rusak meskipun tidak parah, ikuti saja jalan itu sampai Wonopriyo. Nanti ada sebuah sekolah (yang saya lupa namanya) tetap ikuti jalan dan nanti kita akan masuk kawasan hutan pinus, lagi-lagi disinipun jalan sudah rusak. Ikuti saja jalan rusak itu sampai ketemu jalan yang sudah lumayan bagus, dan jangan terlena dengan yang bagus itu karena itu sudah sampai di sekitar telaga. Untuk menuju ke telaga kita ambil jalan yang hanya dari tanah.

Kebun teh Ngliyer
Begitu sampai di Dringo keadaan benar-benar sepi, hanya ada beberapa penduduk yang sedang memancing ikan. 

Telaga Dringo
Meski pun ada beberapa pengunjung tapi itu bisa dihitung dengan jari, di sini pun juga masih bersih dari sampah plastik. Seluas mata memandang hanya ada pohon-pohon yang masih berdiri tegak menantang dinginnya udara pegunungan dan panasnya sengatan matahari. Cukup lama saya berada di sini, sendiri, tanpa seorang teman. Ya, memang niatnya bener-bener pengen menikmati tempat yang masih cantik ini sendirian. Tanpa diganggu teman yang minta difotoin dengan berbagai macam pose hahaha..


Kadang Dringo juga dijadikan tempat camping oleh mereka yang sedang suntuk dengan keramaian kota, tapi saya sendiri masih kurang informasi kalau mau camping di sini harus ijin terlebih dahulu atau tidak. Dan saya pun masih belum dapat info akurat kalau mau camping di sini kendaraan harus ditipkan dimana, atau dibawa langsung ke area camp.



Setelah merasa puas ber-selfie-ria dan muter-muter sekitar telaga, saya pun harus kembali pulang. Rasanya, enggan sekali untuk meninggalkan tempat yang benar-benar cantik ini.

UPDATE:

Hari Minggu kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi Dringo, tapi sayangnya ketika saya sampai di sana cuacanya sedang berkabut tebal dan airnya surut karena banyak digunakan warga untuk menyiram ladang.

Airnya surut.. (Dringo, 13-09-2015)

Oh iya, untuk jalan menuju Dringo via Bandar sudah ada beberapa titk yang diperbaiki. Dan kemungkinan sebelum akhir tahun ini jalannya sudah mulus..