Sunday, 27 December 2015

Cita-Cita

Kali ini saya mendapat tantangan dari mbak coklatkismis untuk menulis tentang cita-cita. Sumpe saya bingung mau nulis tentang apa, dari kecil cita-cita saya saja selalu berubah-ubah. Mulai pengen jadi guru seperti Ibu saya, jadi businessman, jadi jurnalis, dan masih banyak lagi. Dan sayangnya semua cita-cita itu belum terwujud sampai sekarang hahaha.
Source
Tapi kali ini saya ingin bercerita tentang cita-cita yang mungkin bisa terwujud. Yaitu pengen punya rumah atau taman bacaan di kampung saya. Kenapa taman bacaan? Kenapa gak pengen punya mobil atau keliling dunia gitu?

Entahlah, dari semenjak suka baca buku dan mengenal beberapa teman yang aktif sebagai volunteer di taman bacaan, saya ingin sekali memiliki taman bacaan sendiri untuk umum. Salah satu alasan ingin punya taman bacaan karena di lingkungan sekitar saya masih sedikit sekali orang yang mau membaca buku. Dan tentunya apabila ada taman bacaan di kampung saya setidaknya bisa mengurangi anak-anak atau para remaja membuang waktu untuk hal-hal tak berguna. Kan daripada buat hal-hal negatif bisa kita gunakan untuk baca-baca buku. Cita-cita saya sih tidak muluk-muluk dulu, bisa dari sekotak ruang kecil yang berisi banyak banyak buku yang beragam jenisnya.

Source
Dan untuk taman bacaan itu juga bisa digunakan anak-anak untuk belajar bersama, atau untuk mengajari mereka beberapa hal yang merangsang kreatifitas mereka. Membuat mainan tradisional misalnya, apalagi sekarang ini sudah jarang sekali ada anak-anak yang bermain mainan tradisional. Dan yang terpenting adalah agar anak-anak tidak terlalu kecanduan internet atau mainan smartphone.

Semoga cita-cita saya yang satu ini bisa terwujud, aamiin..


Thursday, 24 December 2015

Review Buku "Jika Aku Mereka"

Lagi-lagi saya iseng nantangin mbak coklatkismis buat posting di blog, dan kali ini kami mencoba untuk review buku. Agak bingung juga mau review buku apa, tapi entah mengapa saya memilih buku ini. Mungkin karena saya tertarik dengan "dunia" disabilitas, "dunia" yang berisikan orang-orang hebat. Maka saya putuskan untuk memilih buku ini *tsaaahhh. Jujur ini pertama kalinya saya mereview buku, dan untuk siapa saja yang membaca tulisan ini saya mohon maaf kalau ada kesalahan dalam mereview hehehe.

Buku kuning terbitan Gagasmedia yang berisikan 12 cerita inspiratif yang bertemakan disabilitas ini cukup menarik perhatian saya di rak sebuah toko buku. Mungkin sudah ada beberapa orang yang mereview buku ini, tapi disini saya akan mencoba review buku ini. Kisah-kisah yang tertuang dalam buku ini sangat luar biasa, berisikan cerita tentang pengalaman pribadi atau pengalaman orang-orang di sekitar para penulis cerita. Dari kisah-kisah dalam buku ini membuat saya pribadi bisa lebih menghargai perbedaan yang telah Tuhan ciptakan.



Jemari Artistik sang Penjejak Khayal, sebuah kisah yang ditulis oleh Dini Savila bercerita tentang seorang anak bernama Jihad Akbar. Jihad, begitu panggilannya. Seorang anak penyandang autisme ini memiliki kemauan yang tinggi untuk mewujudkan sesuatu yang ingin ia capai. Jihad memiliki semangat yang besar karena memang keluarganya selalu mendukung dan memperlakukannya secara benar. Sedangkan kisah Tujuh Pelangi yang ditulis oleh Citra Ashri Maulinda ini bercerita tentang pengalamannya sebagai guru pendamping disebuah SD Negeri inklusif. Fawaz, salah satu tokoh dalam kisah ini. Fawaz merupakan murid pindahan dan seorang penyandang autisme. Meskipun untuk berkomunikasi dua arah Fawaz masih membutuhkan arahan, Fawaz memiliki potensi yang luar biasa. Dan hanya diarahkan secara singkat, ia dapat mengerti apa yang diajarkan oleh gurunya. Hal ini membuat Fawaz sering mengikuti Olimpiade Matematika dan IPA tingkat SD.

Sebagaimana kita tahu, banyak mereka yang disabilitas mendapatkan cibiran atau hanya dipandang sebelah mata, sebenarnya mereka juga memiliki potensi yang luar biasa. Bahkan melebihi kita yang nondisabilitas.

Wednesday, 16 December 2015

Tentang Jogja..

Tulisan ini dibuat atas dasar iseng menantang coklatkismis untuk menulis apa pun tentang Jogja.

Jogja, siapa yang tak tahu kota ini. Saya adalah salah satu orang beruntung yang bisa tinggal di Jogja untuk waktu yang cukup lama, 5 tahun. Nggg atau mungkin lebih. Jogja bagi saya sudah seperti rumah sendiri.


Awalnya saya tidak menyangka bisa jadi “wong Jogja” meskipun hanya beberapa tahun saja. Banyak hal yang saya dapatkan selama tinggal di Jogja. Teman-teman dan sahabat yang sampai saat ini masih terjaga komunikasinya, pengalaman baru, dan tentunya referensi tempat piknik yang asik *tsaaahhh. Banyak hal dan tempat-tempat yang saya rindukan di Jogja. Kampus dulu saya menimba ilmu, ramai dan macetnya Malioboro tiap weekend, candi-candi, museum, Pendapa Ambarrukmo & studio musik Antero tempat latihan saya dan teman-teman KSBN sama KomangYo, angkringan Liverpool, angkringan Simbah (hiks kangen Simbah), tiap senin malam kadang nonton Jazz Mben Senen di Bentara Budaya, nonton acara-acara keren di Taman Budaya, Burjo yang buka selama 24 jam, dan ngggg masih banyak lagi yang lain.

Bukan hanya tempat-tempat itu saja yang saya rindukan, tapi juga teman-teman dan sahabat juga. Apalagi saat ini kami sudah tinggal berjauh-jauhan, rasanya kangen aja gitu ngumpul bareng ngobrolin apapun itu. Dan yang yang paling saya rindukan adalah mbolang ke tempat-tempat eksotis yang ada di Gunungkidul *tsaaahhh..

Pokoknya tinggal di Jogja bisa disebut “everyday is holiday” *tsaaahhh, ya bagaimana tidak. Kalau kita lagi suntuk dengan rutinitas sehari-hari entah kuliah atau bekerja bisa lah kita sejenak ke Malioboro atau Tamansari, atau kalau mau bisa mengunjungi banyak candi atau museum. Karena memang Jogja sendiri kan kota tujuan wisata, otomatis tempat wisatanya juga banyak pilihan dan jaraknya pun dekat-dekat. Atau kalau tidak mau jauh-jauh bisa kita sejenak melipir ke angkringan, ngobrol sama warga sekitar yang tentunya sangat menarik untuk saya hehehe.

Di Jogja pula saya banyak mendapat ilmu tentang keberagaman budaya, bahasa, dan bagaimana kita bertoleransi antar umat beragama. Memang selain Jogja sebagai tujuan wisata juga menjadi tujuan untuk sekolah atau kuliah, namanya juga kota Pelajar jadi banyak pilihan sekolah dan kampus di sini. Para pendatang pun tak hanya dari Jawa saya, melainkan juga dari seluruh Indonesia, bahkan ada yang dari luar Indonesia. Tak ayal Jogja sendiri juga kadang disebut sebagai “little Indonesia”, karena banyaknya pendatang dari seluruh Indonesia.

Bhineka Tunggal Ika [sumber gambar]
Jogja, suatu saat nanti saya pasti akan kembali ke pelukanmu.


Thursday, 10 September 2015

Mencari Damai Di Ranu Kumbolo-nya Batang, Telaga Dringo

Telaga Dringo yang juga biasa disebut Ranu Kumbolo-nya Batang, mungkin masih asing ditelinga sebagian orang. Jangankan orang dari luar Pekalongan, Batang, dan Banjarnegara. Bagi mereka yang tinggal ditiga daerah itu saja masih sedikit yang tahu tentang tempat ini. Berawal dari internet saya tahu tentang tempat ini, dan bulan Juni kemarin saya berkesempatan untuk mendatangi tempat ini sendirian. Iya sendiri, gak ada temen sama sekali. Setelah mencari info tentang rute ke tempat ini akhirnya saya pun nekat untuk ke sana.

Dari rumah saya hanya memerlukan waktu sekitar 3 jam saja, tidak terlalu jauh memang. Kebetulan rumah saya ada di daerah Kecamatan Doro yang masuk wilayah Kabupaten Pekalongan. Dari Doro saya mengambil rute arah Bandar lalu Kembang Langit dan Gerlang yang sudah masuk kabupaten Batang. Telaga Dringo sendiri berada di perbatasan Gerlang (kab. Batang) dan Batur (kab. Banjarnegara). Sebenarnya bisa saja kalau kita lewat jalur Paninggaran – Batur yang jalannya sudah bagus, tapi itu akan memakan waktu yang lumayan lama karena kita harus memutar.

Berikut rute singkat dari Doro menuju Telaga Dringo: Doro – Wonotunggal – Bandar (pertigaan ponpes Tazaka kita ambil arah Kambangan) lalu menuju Kembanglangit. Disini jalan masih relatif bagus, tapi begitu sampai di penghujung desa Kembanglagit jalan sudah mulai rusak.

Keadaan jalan di kawasan Alas Kluwung
                        
Ikuti saja jalan itu sampai di desa Gerlang yang ditandai adanya SD Negeri Gerlang yang sekaligus jadi SMP Satu Atap, didekat sekolahan ada pertigaan lalu kita belok kiri. Sampai disini jalannya lumayan rusak meskipun tidak parah, ikuti saja jalan itu sampai Wonopriyo. Nanti ada sebuah sekolah (yang saya lupa namanya) tetap ikuti jalan dan nanti kita akan masuk kawasan hutan pinus, lagi-lagi disinipun jalan sudah rusak. Ikuti saja jalan rusak itu sampai ketemu jalan yang sudah lumayan bagus, dan jangan terlena dengan yang bagus itu karena itu sudah sampai di sekitar telaga. Untuk menuju ke telaga kita ambil jalan yang hanya dari tanah.

Kebun teh Ngliyer
Begitu sampai di Dringo keadaan benar-benar sepi, hanya ada beberapa penduduk yang sedang memancing ikan. 

Telaga Dringo
Meski pun ada beberapa pengunjung tapi itu bisa dihitung dengan jari, di sini pun juga masih bersih dari sampah plastik. Seluas mata memandang hanya ada pohon-pohon yang masih berdiri tegak menantang dinginnya udara pegunungan dan panasnya sengatan matahari. Cukup lama saya berada di sini, sendiri, tanpa seorang teman. Ya, memang niatnya bener-bener pengen menikmati tempat yang masih cantik ini sendirian. Tanpa diganggu teman yang minta difotoin dengan berbagai macam pose hahaha..


Kadang Dringo juga dijadikan tempat camping oleh mereka yang sedang suntuk dengan keramaian kota, tapi saya sendiri masih kurang informasi kalau mau camping di sini harus ijin terlebih dahulu atau tidak. Dan saya pun masih belum dapat info akurat kalau mau camping di sini kendaraan harus ditipkan dimana, atau dibawa langsung ke area camp.



Setelah merasa puas ber-selfie-ria dan muter-muter sekitar telaga, saya pun harus kembali pulang. Rasanya, enggan sekali untuk meninggalkan tempat yang benar-benar cantik ini.

UPDATE:

Hari Minggu kemarin saya berkesempatan untuk mengunjungi Dringo, tapi sayangnya ketika saya sampai di sana cuacanya sedang berkabut tebal dan airnya surut karena banyak digunakan warga untuk menyiram ladang.

Airnya surut.. (Dringo, 13-09-2015)

Oh iya, untuk jalan menuju Dringo via Bandar sudah ada beberapa titk yang diperbaiki. Dan kemungkinan sebelum akhir tahun ini jalannya sudah mulus..