Sunday, 13 January 2013

Meneropong Kota Jogja Dari [Bukit] Candi Ijo


10 januari 2013, cuaca Jogja lumayan ramah waulaupun angin agak berhembus kencang karena pengaruh badai tropis Narelle yang terjadi di samudera Hindia. Dengan modal motor dan kamera yang selalu menemani kami pergi akhirnya kami memutuskan untuk berpetualang menuju Candi Ijo. Candi ini terletak pada ketinggian 140 meter dapl, karena berada di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo maka pemandangan di sekitar candi sangat indah terutama kalau kita melihat ke arah barat akan terlihat wilayah persawahan dan tentu saja Bandara Adisucipto.



Menuju candi Ijo lumayan mudah, kalau kita dari arah kota Jogja cukup menuju arah timur dengan menyusuri jalan Jogja – Solo, setelah sampai di pertigaan pasar Prambanan kita berbelok ke kanan ( arah Piyungan/Ratu Boko). Ikuti saja jalan itu sampai menemukan petunjuk jalan ke arah Candi Ratu Boko/Candi Banyunibo/Candi Ijo, belok kiri dan nanti kita akan menemukan perempatan. Dari perempatan itu kita belok kanan dan ikuti jalan tersebut mentok sampe pertigaan ambil kiri, ikuti jalan sampai ketemu pertigaan lagi dan lagi lagi belok kiri. Ikuti saja jalan ini, awalnya memang berasapal bagus, tapi nanti setelah agak ke atas jalan akan berubah menjadi agak rusak. Dan kita harus hati – hati karena jalan menikung dan banyak tanjakan. Pusing atau kurang paham dengan petunjuk saya? Silahkan bertanya kepada penduduk sekitar, dengan ramah mereka akan menunjukkan arah ke candi ini.


candi Ijo dan candi perwara
Setelah kami menyusuri jalan yang WOW ini akhirnya kami sampai di kompleks candi Ijo. Motor kami parkirkan dan tentu saja langsung menuju pos satpam untuk menulis buku tamu, untuk masuk ke kompleks candi ini masih GRATIS!!

Sekilas Tentang Candi Ijo
Candi Ijo merupakan candi Hindu yang berada tidak jjauh dari candi Ratu Boko dan Candi Banyunibo, candi ini dibangun pada abad ke-9 saat zaman kerajaan Mataram Kuno.



Memasuki bangunan pagar bisa dilihat berbagai ornamen dan ragam hias. Candi Ijo merupakan kompleks percandian, dikompleks candi ini terdiri 17 struktur bangunan dan 11 teras berundak. Di teras ke-1 dan ke-4 terdapat satu candi, diteras ke-5 terdapat satu candi dan dua batur. Pada teras ke-9 merupakan sisa batur bangunan, teras ke-8 terdapat tiga buah candi dan empat buah batur bangunan serta terdapat juga prasasti bertuliskan kode huruf F yang bertuliskan guywan dan juga prasasti batu yang berukuran tinggi 14 cm dan lebar 9 cm. Di teras ke-11 merupakan tempat yang paling dianggap suci, pada halaman teras tersebut ditemukan pagar keliling, delapan buah linggapatok, serta empat bangunan yaitu satu candi utama dan tiga candi perwara. Sedangkan di teras ke-2, ke-3, ke-6, ke-7, dan ke-10 tidak diketemukan bangunan.



Adanya arca Narasinga (Narasimha) di kawasan candi ini menjadi hal yang menarik, narasinga adalah makhluk yang berkepala Singa dan bertubuh manusia yang merupakan awatara (manifestasi) dari dewa Wisnu. Kono dewa Wisnu menjadi Narasinga untuk membunuh raksasa yang bernama Hiranyakasipu. Di candi ini juga terlihat adanya pemujaan terhadap dewa Siwa dan dewi Parwati. Pemujaan terhadap dewa Siwa biasanya ditunjukkan dengan adanya arca dewa Siwa atau lingga – yoni yang berada di kawasan candi, pemujaan terhadap keduanya merupakan suatu bentuk pengharapan agar tidak terjadi bencana atau sekaligus mengharapkan kesuburan.



Konon katanya di candi ini ditemukan banyak arca, namun demi keamanan arca – arca tersebut disimpan di kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.