Wednesday, 2 October 2013

Festival Ramayana Internasional 2013





Sekilas penampilan kontingen Indonesia 1 (Yogyakarta) di acara Festival Ramayana Internasional 2013

Thursday, 4 April 2013

Menengok Wediamba dan Sang Perawan Girisubo Greweng

31 Maret 2013, inilah cerita kami berempat yang awalnya lancar dan berubah jadi absurb. Perjalanan kami menuju pantai Wediamba bisa dibilang lancar karena tidak ada halangan apapun kecuali lampu merah di beberapa traffic light. Sesampai di Wediamba ternyata air sedang pasang, tapi kami masih bisa menikmati dan bermain-main di pantai. Di pantai ini ternyata sudah lumayan ramai, berbeda ketika waktu saya datang ke sini tahun lalu *yaiyalah* dulu datang ke sini pas weekday otomatis gak seramai weekend. Saya tidak akan bercerita banyak tentang pantai ini, karena memang tidak ada yang bisa saya ceritakan di sini. Setelah puas kami di Wediamba, sekitar jam 3 kami pun memutuskan untuk langsung cabut ke pantai Greweng.

Pantai Greweng ini terletak di sebelah timur Wediamba, di pantai ini belum ada tempat parkir atau fasilitas lainnya. Kalau mau aman kendaraan bisa diparkirkan di parkiran Wediamba tapi tentu akan terlalu jauh kalau kita harus berjalan kaki dari parkiran Wediamba menuju pantai Greweng, maka akhirnya kami memutuskan untuk membawa motor kami menuju “alaun-alaun” atau tanah lapang yang biasa digunakan penduduk sekitar untuk memarkir motor mereka. Dan betaga kagetnya saya ketika kami sudah sampai di sekitar “alun-alun”, bahkan kami sudah hampir sampai ke pantai Jungwok tetap saja tidak menemukan tanah lapang tersebut. Akhirnya kami bertanya kepada penduduk sekitar yang kebetulan sedang mencari rumput di dekat kami, ternyata tanah lapang atau “alun-alun” itu kini berubah menjadi ladang Tebu. Kembalilah kami menuju ladang Tebu itu dan menyusuri jalan setapak yang hanya muat untuk satu motor, sampai di dekat area ladang penduduk kami memarkirkan motor di sana. Dan dari sini dimulailah perjalanan kami yang benar-benar jalan kaki.

Dan ternyata banyak yang berubah di sini, ketika saya datang tahun lalu jalan menuju pantai masih terlihat jelas walaupun tanpa petunjuk arah. Lha sekarang jalanan banyak tertutup rumput dan semak, karena tahun lalu saya datang ke sini waktu musim kemarau berbeda dengan tahun ini saya datang saat musim hujan. Nyasarlah kami dan tentu saja ritual bertanya kepada penduduk sekitar yang sedang meladang dan mencari rumput terjadi. Setelah bertanya beberapa kali akhirnya kami sampai juga di tempat yang mengingatkan saya pada jalan kebenaran menuju pantai *duuuhhh..

Sampai di gubuk yang ada anjing-penjaga-ladang-penguasa-jalan-setapak kami pun digonggonggin sama dia, kejadian ini sama waktu saya datang ke sini tahun lalu dan sepertinya hobi anjing-penjaga-ladang-penguasa-jalan-setapak ini memang menggonggongi orang asing. Dengan santainya kami melewati anjing ini dengan perasaan sok cool padahal asli saya takut dikejar!! Lucunya anjing ini mengikuti kami sampai di pantai tapi gak menggonggong kok, dan dia malah duduk santai di atas pasir dekat tempat kami menaruh barang seakan-akan dia sedang mengawasi atau menjaga kami. Di pantai sangat sepi dan sama sekali gak ada wisatawan atau pengunjung kecuali kami ber-empat, yaiyalah siapa juga yang mau datang ke pantai sepi kek gini sore-sore pula cuma “orang gila” dan nekat aja mau datang ke sini..!! Puas bermain dan bernarsis ria dan juga sudah menjelang Maghrib, kami memutuskan untuk pulang.

Pantai Greweng Tahun Lalu
Perjalanan Pulang Yang Heboh!!
Sampai di dekat gubuk yang ada anjing-penjaga-ladang-penguasa-jalan-setapak dia menggonggi kami lagi, duuhhh bikin dag dig dug aja ni anjing. Karena saya takut sama ni anjing akhirnya kami rolling posisi, yang awalnya saya ada di depan pindah ke barisan paling belakang menggantikan posisi Tutik yang kini pindah ke depan. Secara refleks Tutik bilang “sssttt” eh tu anjing langsung pergi dan diem, ini Tutik sendiri yang cerita pada kami padahal saya atau mungkin temen-temen yang lain gak denger si Tutik bilang “sssttt” sama tu anjing. Setelah situasi menjadi kondusif kami pun bertukar posisi lagi, kami tidak melewati jalan ketika kami datang tadi tapi melewati jalan yang dulu pernah saya lalui yaitu lewat depan goa. Awalnya perjalanan kami lancar tapi setelah melewati goa dan sudah mulai gelap kami pun nyasar lagi, karena sekali lagi keadaan jalan yang berbeda seperti ketika saya datang tahun lalu dan sudah mulai gelap walaupun sudah menyalakan senter tetep aja gak kelihatan jelas jalurnya.

Kami hanya muter-muter di ladang penduduk yang semi hutan itu, setelah 1 jam atau mungkin lebih kami tidak menemukan jalan pulang kami memutuskkan untuk mencari ladang yang dekat dengan goa, karena kami nyasarnya mulai dari sini dan berharap saya ingat jalan yang benar untuk pulang. Eh malah kami nyasar lagi dan gak nemu ladang itu, malah kami mendengar suara radio dan saya berinisitif untuk mendatangai suara itu pasti ada orangnya kan?? Si Tutik yang kelihatannya sudah agak takut menyarankan untuk tidak mendatangi asal suara itu, tapi setelah yakin kalau suara itu adalah lagu Tombo Ati-nya Opick yang gak mungkin didengerin sama bangsa lelembut kecuali itu suara gamelan saya akan berfikir 1.000 kali untuk mendatanginya, di tempat sepi men ada suara gamelan siapa yang merinding coba? Dalam perjalanan menuju sumber suara itu kami malah menemukan gubuk yang ternyata itu adalah rumah penduduk, refleks si Herman yang memanggil orang di dalam rumah itu setelah ada sahutan kami pun bertanya jalan menuju “alun-alun”. Gak cuma diberi tahu jalan yang benar tapi kami diantar sama si bapak sampai tempat yang sudah lumayan dekat dengan “alun-alun”, bapak itu menyarankan kami untuk mengikuti jalan setapak ditunjukkan bapak tadi. Dan alhamdulillah akhirnya kami pun sampai di “alun-alun” juga, istirahat dan menenangkan pikiran sebentar akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang ke Jogja..

*Terima kasih untuk bapak gak tahu siapa namanya yang sudah menunjukkan jalan menuju “alun-alun”, kalau gaka ada njenengan gak tahu kami bisa pulang apa gak..

Wednesday, 3 April 2013

Pantai Jogan; Pantai, Air Terjun, Sunset dan Persahabatan



17 Maret 2013, inilah cerita perjalanan kami berempat saya, Anung, Tutik, dan Herman. Berawal dari rencana kami yang semula akan berangkat bertujuh tiba-tiba hanya menjadi berempat, kok bisa ya?? Jadi 3 orang teman kami mengundurkan diri secara tiba-tiba mbak Poe mengundurkan diri karena ada saudaranya yang akan datang ke Jogja, Heni tiba-tiba gak enak badan, dan 1 orang teman  yang tidak perlu saya sebut namanya tiba-tiba mengundurkan diri karena alasan yang menurut saya “sangat lucu”. Gimana gak “sangat lucu”, cuma gara-gara mau ke pasar burung tiba-tiba dia membatalkan diri untuk ikut pembolangan ini, bukan masalah pasar burungnya yang bikin kecewa tapi karena sebelumnya dia telah meng-iya-kan ajakan kami tapi tiba-tiba membatalkan diri ikut hanya karena “masalah pribadi” yang sebenarnya itu bisa dilakukan dihari lain. Simple sih, tapi menurut saya itu sangat kekanankan dan terlalu egois kalau saya bilang. Tapi mau berbuat apa lagi mungkin ini sudah watak orang itu, tapi dengan watak dia yang seperti ini mungkin bisa merugikan dirinya sendiri bahkan orang lain, atau mungkin banyak orang tidak bisa percaya lagi dengan dia. OK sekarang kita lupakan hal ini and it’s time to fun..

Awalnya jadwal kami berangkat dari Jogja adalah jam 7 pagi, tapi karena ada hal yang “aneh” ini jadwal kami molor jadi jam 10 pagi bahkan nyaris gagal!! Perjalanan kami mulai dari meet point kami di kost si Herman di sekitar Glagahsari, setelah kami bertiga kumpul lanjut jemput si Anung di rumahnya yang berada di Japar *ngalang dab!!

Untuk menuju pantai Jogan sangatlah mudah, kita tinggal mengikuti jalan Jogja – Wonosari dan sampai di daerah Mulo kita belok kiri mengikuti papan petunjuk arah pantai. Ikuti saja jalan itu sampai daerah Tepus dan ketemu papan petunjuk arah pantai Siung, lalu kita belok kanan, ikuti saja jalan menuju Siung dan nanti akan bertemu pertigaan menuju arah pantai Jogan kita langsung belok kanan mengikuti jalan yang sudah disemen. Jangan takut nyasar karena sudah ada petunjuk arah menuju pantai Jogan yang menggunakan kayu kecil kalau bingung tanya saja kepada penduduk sekitar heuheu..

Air Terjun Penganten

Sebelum menuju Jogan kami mampir sebentar ke Siung, sampai di sana ternyata sudah ramai pengunjung. Kami tidak langsung ke pantai tapi memutuskan untuk naik ke bukit yang berada di timur pantai Siung. Kalau mau naik ke sini harus hati-hati karena jalunya berada di pinggir tebing dan gak ada pengamannya. Kalau kepleset mungkin kita bisa jatuh ke laut yang banyak karangnya. Sampai di atas kami istirahat sebentar untuk memulihkan tenaga, di sana kami hanya sebentar dan memutuskan untuk langsung menuju ke Jogan. Turunnya kami memutar yang sebelumnya kami bertanya kepada petani yang kebetulan kami temui di atas bukit. Jalur kami turun lumayan bersahabat karena tidak langsung berada di pinggir tebing, tapi ya harus tetap hati-hati apalagi setelah hujan jalannya jadi licin. Setelah sekitar satu jam kami di Siung kami pun menuju pantai Jogan.

Setelah memarkirkan motor kami langsung turun ke bawah, oh iya di sini pantainya pasirnya sedikit dan lebih banyak batunya. Waktu kami ke sini pantai sepi sekali dari pengunjung, yang kami temui hanya beberapa orang yang sedang memancing di tebing bagian barat. Tapi waktu kami pulang ada serombongan SISPALA yang datang untuk camping di sini. Kalau mau datang ke sini jangan pas air pasang, karena kalau air pasang kita tidak bisa menikmati segarnya air terjun. Setelah puas menikmati segarnya air terjun kamipun memutuskan untuk naik ke atas untuk sekedar beristirahat, sholat, dan mengisi perut yang kosong. Jangan takut kelaparan, di sini sudah ada warung kok walaupun cuma baru ada satu saja.

Selesai beristirahat kami memutuskan untuk naik ke atas bukit yang berada di timur pantai Jogan, untuk naik ke atas bukit ini jalurnya sama seperti di bukit timur Siung. Tapi kalau menurut saya jalur di bukit timur Jogan ini lumayan bersahabat di banding bukit timur Siung. Sampai di atas bukit saya coba untuk mencari jalan yang menuju ke puncak bukit, tapi hasilnya nihil karena jalannya gak ada atau saya yang gak tau jalannya hehehe.

Menikmati Indahnya Jogan Dari Atas Bukit
Dari atas bukit samar-samar terlihat pulau karang pantai Timang, pantai yang selama ini saya cari dan ingin saya kunjungi hahaha. Sambil menunggu sunset kamipun ngobrol ngalor-ngidul gak jelas untuk membunuh waktu. Tanpa kami sadari sunset pun datang tapi sayang mataharinya sedikit terhalang awan. Puas menikmati sunset kami pun memutuskan untuk turun dan pulang kembali ke Jogja. Kalau boleh jujur saya masih betah di sana, apalagi ketika kami berada di atas bukit memandang laut lepas yang luas dan berwarna biru, sunset yang cantik ditemani suara deburan ombak yang berkolaborasi dengan suara gemericik air terjun. Semoga suatu saat kami bisa berkunjung lagi ke Jogan..


Thursday, 7 February 2013

Hangatnya Mentari Pagi Di Puncak Gunung Api Purba Nglanggeran




Berawal dari obrolan iseng si Iga akhirnya kami berempat saya, mbak Poe, Herman dan Iga melalakukan perjalanan ini pada tanggal 2 Februari 2013. Kami memulai perjalanan dari kota Jogja sekitar jam 3.00 pagi hanya untuk “mengantarkan” Iga liat sunrise.

Beruntung cuaca saat itu sangat mendukung, dan perjalanan menuju Gunung Api Purba memakan waktu sekitar 1-1,5 jam. Begitu sampai di sana kami langsung membayar retribusi dan langsung naik ke puncak. Kami melakukan perjalanan dari pendapa Kalisong menuju puncak sekitar jam 4 pagi (mungkin, soalnya lupa). Hanya gelap, suara jangkrik, hembusan angin malam, dan cahaya senter yang remang menemani perjalanan kami menuju puncak. Sekitar 1 jam kami berjalan kaki dan tak lupa diselingi obrolan dan candaan khas kami akhirnya kamipun sampai di puncak. Ternyata sudah banyak orang di atas, maklum pas weekend jadi rame orang. Sampai di puncak kami istirahat dan tentu saja menunggu munculnya sang mentari. Ahhh akhirnya sang mentari pun muncul dan cuaca sangat mendukung, betapa cantiknya pagi itu. Ketika saya “dipaksa” untuk menyaksikan munculnya dan merasakan hangatnya mentari pagi, karena biasanya jam segitu saya masih/baru mau tidur.

mataharinya muncul..
Walaupun GAP ini gak terlalu tinggi tapi jangan sesekali ngremehin, tetep bawa bekal yang cukup ya. Karena di atas gak ada yang jual makanan, cangcimen, ataupun Indmrt. Jalan menuju puncak sudah ada beberapa yang disemen, tapi kebanyakan masih berupa tanah. Jadi kalau pas ke sini saat musim hujan seperti ini harus ekstra hati-hati karena jalannya jadi licin. Buat cewek gak disarankan menggunakan sandal/sepatu berhak tinggi (karena beberapa kali saya ke sana liat cewek menggukan sandal berhak tinggi).


Berdasarkan penelitian, pada 60 hingga 70 juta tahun yang lalu Gunung Api Purba (GAP) merupakan gunung yang aktif tapi kalau sekarang hanya tinggal deretan batu raksasa. Gunung ini juga disebut gunung Nglanggeran karena letaknya yang ada di desa Nglanggeran,  Kec. Patuk, Kab. Gunung Kidul, gunung ini memiliki tinggi sekitar 300-800 meter dpal.

Jogja lautan awan


Sunday, 13 January 2013

Meneropong Kota Jogja Dari [Bukit] Candi Ijo


10 januari 2013, cuaca Jogja lumayan ramah waulaupun angin agak berhembus kencang karena pengaruh badai tropis Narelle yang terjadi di samudera Hindia. Dengan modal motor dan kamera yang selalu menemani kami pergi akhirnya kami memutuskan untuk berpetualang menuju Candi Ijo. Candi ini terletak pada ketinggian 140 meter dapl, karena berada di atas bukit yang disebut Gumuk Ijo maka pemandangan di sekitar candi sangat indah terutama kalau kita melihat ke arah barat akan terlihat wilayah persawahan dan tentu saja Bandara Adisucipto.



Menuju candi Ijo lumayan mudah, kalau kita dari arah kota Jogja cukup menuju arah timur dengan menyusuri jalan Jogja – Solo, setelah sampai di pertigaan pasar Prambanan kita berbelok ke kanan ( arah Piyungan/Ratu Boko). Ikuti saja jalan itu sampai menemukan petunjuk jalan ke arah Candi Ratu Boko/Candi Banyunibo/Candi Ijo, belok kiri dan nanti kita akan menemukan perempatan. Dari perempatan itu kita belok kanan dan ikuti jalan tersebut mentok sampe pertigaan ambil kiri, ikuti jalan sampai ketemu pertigaan lagi dan lagi lagi belok kiri. Ikuti saja jalan ini, awalnya memang berasapal bagus, tapi nanti setelah agak ke atas jalan akan berubah menjadi agak rusak. Dan kita harus hati – hati karena jalan menikung dan banyak tanjakan. Pusing atau kurang paham dengan petunjuk saya? Silahkan bertanya kepada penduduk sekitar, dengan ramah mereka akan menunjukkan arah ke candi ini.


candi Ijo dan candi perwara
Setelah kami menyusuri jalan yang WOW ini akhirnya kami sampai di kompleks candi Ijo. Motor kami parkirkan dan tentu saja langsung menuju pos satpam untuk menulis buku tamu, untuk masuk ke kompleks candi ini masih GRATIS!!

Sekilas Tentang Candi Ijo
Candi Ijo merupakan candi Hindu yang berada tidak jjauh dari candi Ratu Boko dan Candi Banyunibo, candi ini dibangun pada abad ke-9 saat zaman kerajaan Mataram Kuno.



Memasuki bangunan pagar bisa dilihat berbagai ornamen dan ragam hias. Candi Ijo merupakan kompleks percandian, dikompleks candi ini terdiri 17 struktur bangunan dan 11 teras berundak. Di teras ke-1 dan ke-4 terdapat satu candi, diteras ke-5 terdapat satu candi dan dua batur. Pada teras ke-9 merupakan sisa batur bangunan, teras ke-8 terdapat tiga buah candi dan empat buah batur bangunan serta terdapat juga prasasti bertuliskan kode huruf F yang bertuliskan guywan dan juga prasasti batu yang berukuran tinggi 14 cm dan lebar 9 cm. Di teras ke-11 merupakan tempat yang paling dianggap suci, pada halaman teras tersebut ditemukan pagar keliling, delapan buah linggapatok, serta empat bangunan yaitu satu candi utama dan tiga candi perwara. Sedangkan di teras ke-2, ke-3, ke-6, ke-7, dan ke-10 tidak diketemukan bangunan.



Adanya arca Narasinga (Narasimha) di kawasan candi ini menjadi hal yang menarik, narasinga adalah makhluk yang berkepala Singa dan bertubuh manusia yang merupakan awatara (manifestasi) dari dewa Wisnu. Kono dewa Wisnu menjadi Narasinga untuk membunuh raksasa yang bernama Hiranyakasipu. Di candi ini juga terlihat adanya pemujaan terhadap dewa Siwa dan dewi Parwati. Pemujaan terhadap dewa Siwa biasanya ditunjukkan dengan adanya arca dewa Siwa atau lingga – yoni yang berada di kawasan candi, pemujaan terhadap keduanya merupakan suatu bentuk pengharapan agar tidak terjadi bencana atau sekaligus mengharapkan kesuburan.



Konon katanya di candi ini ditemukan banyak arca, namun demi keamanan arca – arca tersebut disimpan di kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.