Monday, 5 November 2012

Candi Banyunibo


Sebenarnya perjalanan ini kami lakukan sekitar bulan Mei, tapi baru kali ini kepikiran buat posting tentang candi Banyunibo. Awalnya tujuan kami adalah candi Abang dan Candi Ijo, tapi berhubung kami kurang informasi lokasi kedua candi itu maka kami memutuskan untuk ke candi Banyunibo.

Perjalanan kami tak semulus yang kami bayangkan, sama seperti jalan aspal yang kami lalui.Rusak dan banyak lubang di sana-sini (gak tahu kalo sekarang). Kami pun sempat nyasar karena memang awalnya kami sama sekali belum tahu letak candi ini, setelah bertanya ke penduduk sekitar ternyata kami kebablasan dan memang candi ini tidak terlihat jelas karena tertutup pohon-pohon yang berada di ladang warga sekitar.

Untuk menuju ke lokasi candi ini sebenarnya gampang-gampang susah, dari Jogja kita cukup menuju ke arah timur (menyusuri jalan Jogja - Solo) sampai di pasar Prambanan kita belok kanan (arah Piyungan), ikuti saja jalan Jogja - Piyungan nanti pas ketemu pertigaan (yang menuju Ratu Boko dan mulai di sini jalan agak rusak) kita ambil kiri dan ikuti saja jalan desa itu. Setelah bertemu perempatan (yang kalau belok kiri kita menuju Ratu Boko) tetep lurus saja, nanti akan ketemu jembatan kecil langsung kita belok kanan (dari dekat jembatan kecil ini jalannya berupa tanah).

 Suasana di candi ini sangat sepi sekali, jarang ada pengunjung yang datang ke sini. Petugas? Waktu kami ke sini hanya ada seorang satpam yang sedang bertugas. Di depan kompleks candi ini terbentang sawah yang masih luas, sedangkan kanan – kiri kompleks ini berupa ladang tebu. Dan candi adalah tempat yang paling asik buat menjauh dari hiruk pikuk dan ruwetnya kota Jogja hahaha..

candi utama



Sekilas Tentang Candi Banyunibo
Candi Banyunibo (Bahasa Jawa; air yang jatuh atau menetes) merupakan candi Budha yang berada tidak jauh dari Candi (Istana) Ratu Boko, yaitu berada di sebelah timur kota Jogja ke arah Wonosari. Candi ini pada sekitar abad ke-9 saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Bagian atas candi ini memilki stupa yang menjadi ciri khas candi Budha. Candi ini diketemukan dalam keadaan runtuh kemudian  mulai digali dan diteliti pada tahun 1940-an.



puing candi perwara


Candi Banyunibo merupakan bangunan suci Budha yang kaya hiasan (ornament). Hampir pada setiap bagian candi diisi oleh bermacam-macam hiasan dan relief, meskipun bagian yang satu dengan yang lain sering ditemukan motif hiasan yang sama. Candi utama menghadap ke barat dan terletak diantara sawah dan ladang tebu. Di seekitar candi juga terdapat puing-puing yang diperkiranakan adalah candi perwara atau candi pendamping.

Friday, 2 November 2012

Timur Ujung Negara


Pantai Ujung Negara berada di desa Ujung Negara, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang atau sekitar 7km dari kota Batang. Apabila kalian dari kota Batang cukup menuju ke arah timur, dan sampai di SPBU desa Bakalan nanti akan ada sebuah gerbang yang bertuliskan “Pantai Ujung Negara”, dari sini langsung saja belok kiri dan ikuti jalan desa. Untuk masuk ke pantai ini kita cukup membayar Rp. 3.000,- (weekday) dan Rp. 6.000,- (weekend dan hari libur). Dan kali ini saya tidak akan membahas pantai Ujung Negara yang sudah dibuka untuk wisata, melainkan timur pantai Ujung Negara yang masih sepi.

Berawal dari bengkel, dimulailah cerita ini *halah*. Siang yang terik mengantarkan kami ke sebuah bengkel untuk mengganti onderdil motor saya, nah di sinilah pemikiran kami menuju Ujung Negara itu muncul. Jadi karena keluarga temen saya (si Yaenudin) yang beberapa bulan lalu abis liburan ke pantai yang katanya ada binatang semacam di Taman Safari dan perginya tanpa Yaenudin, akhirnya memunculkan rasa penasaran juga *yang ternyata ini salah info.

Berangkatlah kami menuju pantai Ujung Negara, sekitar 30 menit kami pun sampai di parkiran Ujung Negara. Pas kami sampai sini sepi, loket pun sudah atau memang tutup yaiyalah orang sampai sini udah sore! Sampai parkiran atas gak sengaja kami melihat pantai yang sepi, akhirnya kami pun menuju pantai yang sepi itu. Dari parkiran jalannya mulus beraspal lalu taraaaaa tanah merah yang kering *krik..krik..krik.. Awalnya kami mau putar balik, tapi emang dasarnya ane orang nekat yaudah tetep tancap dan sampai bawah. Di sini tidak ada parkiran, tapi masih bisa ditemui beberapa penduduk sekitar yang sedang mencari rumput atau berladang. Motor kami parkirkan di sebelah motor penduduk sekitar, dari sini kami menuruni bukit yang tidak terlalu tinggi mengikuti jalan setapak dan tertutup semak. Sampai pantai langsung merengut gara-gara banyak sampah, kalo sampah seperti batang kayu sich gak apa-apa tapi ini juga banyak sampah plastik yang gak tau berasal darimana?


Kamipun berjalan ke timur menyusuri pantai, dalam perjalanan kami menemukan satu pohon yang tumbuh di sekitar pantai. Melihat pohon itu bayangan saya langsung menuju pantai Pok Tunggal yang ada di Gunung Kidul, yups pohon yang tumbuh di sini sangat mirip sekali dengan pohon yang tumbuh di Pok Tunggal *ach kangen Gunung Kidul. Masih terus menyusuri pantai dan kami menemukan batu karang yang mengingatkan saya sama pantai Wedi Ombo, mirip siiich.


Terus berjalan ke arah timur, kami bertemu dengan pantai yang lumayan panjang, dan gak tau itu masih masuk kawasan wisata Ujung Negara atau tidak. Hari semakin sore dan kami pun memutuskan untuk pulang ke Pekalongan.

Thursday, 1 November 2012

Curug Genting, "Sang Perawan" Dari Desa Bawang


Curug Genting berada di wilayah Kecamatan Blado Kabupaten Batang (Jawa Tengah), atau sekitar 30 km dari kota Batang. Dari kota Batang kita langsung menuju ke Bandar yang berada di selatan kota batang, lalu menuju ke Blado yang berjarak sekitar 25 km. Dari ibu kota kecamatan Blado kita bisa menyusuri jalan desa yang beraspal menuju desa Bawang, yang berjarak sekitar 5 km. Curug Genting berada di petak 49o Hutan Lindung Tertutup (HLT) RPH Kembanglagit, BPKH Bandar.

Inilah perjalanan kami ber-5 (Nafish, Heri, Risky, Sigit, dan tentunya saya Yoga cowok yang paling cakep se-antero-Nusantara-tapi-bo’ong). Perjalanan yang rencananya hari Kamis (25 Okt) akhirnya diundur sampai hari Sabtu (27 Okt), gak tau kenapa diundur mungkin karena saya kagak bisa ikut kali yeee?? *GR dan perjalanan yang awalnya direncanakan jam 7 pagi berakhir dengan ngaret sampai jam 9 *krik..krik..krik..

Kami pun langsung menuju ke sebuah minimarket di Bandar (Batang) yang kami jadikan meet point, sekalian kami membeli beberapa persedian selama perjalanan. Karena jangan harap ada toko atau warung di sekitar curug. Perjalanan dari Bandar menuju desa terakhir sebelum sampai curug memakan waktu sekitar 25-30 menit. Sampai di desa terakhir kami pun langsung menitipkan kendaraan kami kepada penduduk sekitar, dan dimulai lah perjalanan yang bener-bener jalan kaki. Sebenarnya di atas juga ada tempat parkir, tapi tidak ada yang jaga dan jalan beraspal juga sudah mulai tertutup tanah serta rumput. Jalan beraspal? Yups, menurut si Nafish kawasan curug ini pernah dibuka untuk wisata umum, tapi sejak beberapa tahun yang lalu ditutup. Setelah ane cari info kesana-kemari ternyata bener, curug ini pernah dibuka untuk wisata dan sekitar tahun 2009-an wisata ini ditutup dengan alasan rugi, who know’s? Tapi kalau menurut ane dan beberapa temen mengira tidak hanya alasan rugi saja sehingga pengelola menutup kawasan wisata ini.

Selama perjalanan menuju curug kita akan disuguhi hutan pinus dan panorama alam yang indah, serta udara yang sejuk. Dan betapa beruntungnya kami karena dalam perjalanan kami pun sempat melihat burung Elang Jawa yang sedang bertengger di atas pohon, tapi sayang waktu saya mau motret tu burung malah terbang. Sampai di parkiran kami sempat istirahat sebentar untuk mengumpulkan tenaga lagi, dan kami sempat bingung juga karena ada 3 cabang jalan. Beruntung ada penduduk sekitar yang baru turun pulang dari mencari burung (dan semoga bukan burung yang dilindungi pemerintah).

Selesai beristirahat kami pun melanjutkan perjalanan, kali ini bukan jalan beraspal-yang-tertutup-tanah-serta-rumput lagi, melainkan anak tangga yang terbuat dari semen-yang-sudah-mulai-rusak-dan-tertutup-semak. Setelah menaiki anak tangga sampailah kita di gerbang menuju curug, dari gerbang ini kita kembali dihadapkan dengan anak-tangga-yang-terbuat-semen-yang-sudah-mulai-rusak-dan-tertutup-semak tapi kali ini kita tidak naik melainkan turun!!

"sang perawan"

Sepanjang perjalanan menyusuri anak tangga kami disuguhi tebing batu yang bener-bener T.O.P begete, oiya di sini kita tidak boleh menyentuh dinding tebing (sudah ada tulisannya lho). Dari kejauhan suara dan rupa dari “sang perawan” pun sudah terlihat, begitu cantik dan derasnya air mengalir sehingga menimbulkan nada-nada yang begitu indah #eaaaaa.. Sesampainya di bawah kami istirahat sebentar dan dilanjutkan sesi narsis.

kalo udah liat ini berarti hampir sampai
Kami tidak dapat berlama-lama di sana karena mendung yang menggelantung, padahal saya masih betah di sini. Sampai di depan gerbang menuju curug benar saja kami disambut rintik hujan, dan dalam perjalanan menuju pemukiman penduduk kami ditemani kabut serta rintik hujan. Segar rasanya. Sampai di rumah penduduk kami istirahat sebentar sambil menunggu hujan reda, gak lama kemudian hujan reda dan kami pun pulang menuju Pekalongan.

perjalanan pulang
di depan gerbang masuk
Berat rasanya meninggalkan “sang perawan” dari desa Bawang, ingin rasanya saya berlama-lama denganmu. Belum puas rasanya saya menikmati kemolekan dan suaramu yang merdu. Hei “sang perawan” dari desa Bawang, suatu saat kami akan mengunjungimu lagi..