Wednesday, 31 October 2012

Pulau Terluar Indonesia


Hari Minggu kemarin pas ane lagi mantengin timeline Twitter gak sengaja @TravellerKaskus lagi ngasih kul twit tentang #PulauTerdepanIndonesia, dan berikut beberapa #PulauTerdepanIndonesia yang dibahas.

Indonesia adalah negara kepuluan terbesar di dunia, terdapat ±17.508 pulau, 7.870 telah diberi nama, dan 9.634 belum memiliki nama. Menurut data resmi dan terpercaya terdapat 67 pulau yang langsung berbatasan dengan negara tetangga. Masalah konflik perbatasan, minimnya akses, sarana dan prasarana serta tidak terperhatikannya kesejahteraan masyarakat. Timbul pertanyaan: Bagaimana kita mempertahankan dan memperdayakan pulau-pulau terluar Indonesia (dengan potensi alam yang luar biasa)?

Pulau Rondo ( Sabang, NAD )
sumber: google

Pulau ini tidak berpenduduk dan berbatasan langsung dengan India dan sangat rawan dengan ilegal fishing.

Pulau Berhala ( Serdang Bedagai, SUMUT )
Luas pulau ini ±2,5 km2, tidak berpenghuni, berbatasan langsung dengan Malaysia dan sangat rawan ilegal fishing.
sumber: google
Pulau Sekatung ( Natuna, Kep. Riau )
Pulau dengan luas ±0,3 km2  ini tidak ada penduduknya, berbatasan dengan Vietnam dan sangat rawan ilegal fishing.
sumber: google

Pulau Nipah ( Batam, Riau )
Luas pulau ini ±60 H, tidak berpenduduk dan berbatasn dengan Singapura. 60% pulau ini adalah karang dan 20% pasir, pulau ini sangat rawan tenggelam dan pelayaran internasional.

Pulau Marore ( Sangihe, SULTRA )
Sudah berpenduduk ±640 jiwa, dan memiliki luas ±214,49 km2. Pulau ini berbatasna langsung dengan Filipina dan rawan ilegal fishing.

Pulau Miangas ( Talaud, SULTRA )
Memiliki penduduk ±678 jiwa, luas pulau ini ±3,15 km2, dan pulau ini sudah ada listrik. Miangas berbatasan dengan Filipina dan rawan dengan penyelundupan serta penggunaan mata uang Peso.

Pulau Marampit ( Talaud, SULTRA )
Pulau dengan luas ±12 km2 memiliki penduduk ±1436 jiwa dan berbatasan langsung dengan Filipina serta rawan ilegal fishing.

Pulau Fani ( Raja Ampat, Papua )
Pulau ini sudah berpenduduk dan memiliki luas ±9 km2, berbatasan dengan Island Rep. nan rawan ilegal fishing.

Pulau Fanildo ( Biak Numfor, Papua )
Memiliki luas ±9 km2 dan tidak berpenduduk, pulau ini berbatasan dengan Island Rep. dan rawan ilegal fishing.

Pulau Dana ( Kupang, NTT )
Tidak berpenduduk, berbatasan dengan Australia dan rawan ilegal fishing.

 Pulau Bras ( Biak Numfor, Papua )
Pulau yang memiliki luas ±3375 km2 ini hanya memiliki penduduk ±50 jiwa, berbatasan langsung dengan Island Rep. dan rawan ilegal fishing.

Pulau Batek ( Kupang, NTT )

Berbatasan dengan Timor Leste dan tidak berpenduduk, pulau yang memilki luas ±25ha tidak jarang digunakan Penyu untuk bertelur dan migrasi Lumba-Lumba.Pulau ini rawan dengan ilegal fishing.


Pulau Alor
Pulau ini terletak di ujung timur Kep. Nusa Tenggara, memiliki luas ±2119 km2 dengan titik tertingginya 1839m.

Pulau Nusa Barung ( Jember, JATIM )

Pulau Dolangan, terletak di Laut Sulawesi, berbatasan dengan Malaysia dan Filipina.

Pulau Kisar terletak di Selat Welar ( Maluku ), berbatasan dengan Timor Leste.

Pulau Makalehi, pulau ini berada di laut Sulawesi dan masuk ke wilayah Kabupaten Sangihe, berbatasan dengan Filipina.

Itulah beberapa #PulauTerdepanIndonesia yang memilki kekayaan alam yang luar biasa dan terancam keberadaannya, sebenarnya masih banyak #PulauTerdepanIndonesia yang memilki kekayaan yang luar biasa. Kapan-kapan bakal ane sambung :D

Wednesday, 3 October 2012

1 hari 3 pantai #3 : Pantai Sadeng


Dalam perjalanan pulang kami masih berdebat, mau kemana sekarang? Apakah mau langsung pulang atau mampir lagi? Awalnya kami memutuskan untuk pulang, tapi sampai di tengah jalan dan melihat petunjuk arah menuju pantai Sadeng alhasil kami berubah pikiran dan langsung memutar balik menuju Sadeng. Perjalanan dari Greweng menuju Sadeng memakan waktu sekitar 1,5 jam, agak jauh memang karena sepertinya pantai Sadeng ini sepertinya sudah hampir dekat dengan daerah Wonogiri-Jawa Tengah.

Di tengah perjalanan kami sempat putus asa dan berfikir “ya ampun jalan ini masih panjang dan gak sampai-sampai“, apalagi dengan kondisi jalan yang naik turun serta berliku dan juga samping kami jurang. Tapi dengan tekad dan nekat benar-benar mengalahkan rasa putus asa dan capek, kuncinya cuma satu “nikmatilah perjalanan mu, niscaya engkau akan menikmatinya“ *wuopoh!!

Akhirnya kami pun sampai di TPR pantai Sadeng, dan di sini TPR nya juga tutup alhasil gratis lagi. Perjalanan dari TPR menuju pantai pun masih agak jauh, sekitar 15 menit mungkin, dan sampainya di gerbang pantai sadeng sekilas kami membaca “Pelabuhan Perikanan Sadeng”. Kok pelabuhan? Yups, jadi pantai Sadeng ini juga berfungsi sebagai pelabuhan ikan. Dan pantai di sini bener-bener kecil banget, pasirnya dikit mirip seperti pantai Glagah yang ada di Kulon Progo.

kapal nelayan yang sedang berlabuh
Bedanya, kalau pantai Glagah pasirnya berwarna hitam dan agak panjang, sedang kan sadeng pasirnya berwarna putih dan pendek. Di pantai ini kami berfikir “sangat membosankan”, akhirnya kamipun memutuskan untuk pulang ke Jogja. Jadi ane mohon maaf kalau di sini gak bisa cerita panjang lebar karena memang disini gak ada yang bisa diceritain *penutup yang aneh*. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya..  (END)

1 hari 3 pantai #2 : Pantai Greweng


Setelah puas kami menyusuri Wedi Amba akhirnya kami memutuskan untuk menuju ke pantai tujuan awal kami, pantai Greweng. Bermodalkan informasi dari internet dan bertanya kepada penduduk sekitar kami pun bertekad menuju ke pantai ini.

Kami pun berangkat menuju Greweng, kami sempat nyasar ke pantai Jumwok, Jumrok, Jump Rock(?) atau apalah itu namanya saya lupa dan lagi-lagi pantai ini masih jarang dikunjungi oleh wisatawan tapi kami tidak sempat menengok pantai ini karena kami sudah terlalu penasaran sama Greweng. Akhirnya kami pun bertanya kepada penduduk sekitar dan mereka menyarankan kami untuk naik ke atas lagi. Setelah ketemu tanah lapang (yang disebut penduduk sekitar sebagai alun-alun) kami harus belok ke kiri, dan disinilah keraguan itu muncul. Gimana gak ragu coba, gak ada tempat parkir cuy.

Dan lagi, kami bertanya kepada penduduk sekitar yang kebetulan sedang berladang. Kami disarankan untuk meninggalkan motor kami digubuk, awalnya kami ragu apa aman meninggalkan motor di sini? Nanti kalu ada yang nyuri kekmana? Setelah si Ibu meyakinkan kami dengan berkata “aman kok mas, lagian orang sini nyuri motor ya buat apa? lagian nanti petani di sini biasa sampai sore kok mas”. FINE! Setelah keraguan terjawab akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan tracking sekitar 2km atau lebih dan harus menaiki serta menuruni bukit.

samar-samar terlihat air laut
Kami baru berjalan beberapa meter lalu keraguan pun tiba, bukan ragu masalah motor tapi jalan mana yang akan kami ambil? Banyak simpangan cuy, dan lagi-lagi kami bertanya kepada penduduk sekitar. Kami berjalan mengikuti arahan Bapak itu, dan yang gak ane sangka Bapak itu masih tetap memperhatikan kami waktu kami salah belok pun Bapak itu berteriak dengan kencangnya dan sambil menunjuk arah yang benar “salah mas, bukan yang situ tapi yang sana”. Terus berjalan menyusuri jalan setapak yang banyak persimpangan kami pun ragu lagi harus ke arah mana? Lagi, lagi, dan lagi kami bertanya kepada penduduk sekitar yang sedang berladang. Dan sang Ibu berkata “pantainya ada dibalik bukit itu mas, mas nya naik bukit itu trus nanti turun. pantainya udah deket kok”.

"menatap masa depan" #halah
Akhirnya kami menaiki bukit, dari atas bukit samar-samar air laut sudah kelihatan, kami pun berhenti sebentar untuk bersesi narsis dan mengumpulkan sedikit energi yang terkuras. Dalam perjalanan kami menemui sebuah goa, dan kami ragu untuk memasukinya (sebenarnya saya penasaran) dan melanjutkan perjalanan menuju pantai.

Lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi kami bertanya kepada penduduk sekitar karena ragu memilih persimpangan jalan. Setelah ditunjukkan jalan yang benar kami pun tetap menyusuri jalan kenangan *eh bukan! yang bener jalan setapak. Dan samar-samar terdengar deburan ombak yang berarti “kita-sudah-dekat-sama-pantai” ngomong sambil lari, dan mendadak berhenti karena ada sekelompok monyet! iya monyet,  monyet asli..!! Mungkin mereka turun untuk mencari makan. Agak takut juga ketika kami harus melewati gerombolan mereka, pemimpinnya nakutin cuy! Kami sempat disentak sama dia, untung kami gak dikejaaarrr..

Akhirnya nyampai juga di pantai, pantainya sepi banget gak ada pengunjung kecuali penduduk sekitar yang gak tau lagi ngapain tapi kayaknya lagi nyari rumput laut. Kami istirahat sebentar untuk mengumpulkan energi, setelah energi terkumpul seperti biasa sesi narsis pun tiba dan gak lupa kami menengok sekitar pantai. Setelah puas kami pun memutuskan untuk pulang, melewati “gank monyet” lagi.

pantai yang sepi


kami menyebut ini "Batu Karang naga Laut"

serasa private beach..
Berhubung kami “cerdik” (yang ini bo’ong banget!) akhirnya kami lewat yang satunya, yang agak jauh dari “gank monyet” dan tetep sang pemimpin nyentak kami dengan suaranya yang khas. Selesai dengan “gank  monyet” kami pun berhadapan dengan anjing-penjaga-ladang-yang-sedang-menguasai-jalan-setapak-kami-sambil-menggonggongi-kami. Meskipun di situ ada sang majikan tetep aja kami takut, akhirnya kami minta bantuan kepada sang majikan untuk mengusir si anjing. Dengan santainya si Bapak berkata gak apa-apa mas, anjingnya gak gigit kok”, dengan PD ane jawab “lha itu anjingnya di tengah jalan pak, kalo ngejar gimana?”. Dan si Bapak yang satunya berkata “gimana anjingnya gak gonggong mas, itu tongkat yang njenengan bawa ditinggal aja. dia mikirnya njenengan mau mukul jadinya dia gonggong“. Mengikuti saran si bapak akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang dengan tetep mengawasi si anjing siapa tahu tiba-tiba dia mengejar kami, dan tentunya kami gak lewat jalan setapak melainkan lewat tengah ladang yang sedang digarap si Bapak *maaf pak terpaksa.

Kehebohan gak cuma terjadi ketika kami harus bertemu denga “gank monyet” dan anjing-penjaga-ladang-yang-sedang-menguasai-jalan-setapak-kami-sambil-menggonggongi-kami, tapi juga karena kami nyasar dan lupa jalan pulang. Muter-muter gak jelas dan bingung akhirnya kami memutuskan untuk balik ke tempat ketika kami ragu untuk mengambil arah mana yang benar[?]. Akhirnya kami pun menemukan jalan yang benar untuk pulang, sebenarnya jalan itu sudah ada di depan tapi karena agak ketutup semak jadinya gak kelihatan.

Dalam perjalanan pulang kami sempat mampir di goa yang kami lewati tadi, dan rasa peanasaran mengalahkan rasa takut. Saya coba masuki goa tersebut dengan agak ragu, dan temen Saya? gak usah ditanya karena dia takut. Pas sudah di mulut goa yang saya rasain sepi banget, agak ragu juga untuk melangkah masuk lebih dalam lagi. Tapi sekali lagi, penasaran mengalahkan rasa takut! Saya tetep aja masuk tapi tetep gak terlalu jauh dari mulut goa, di dalam goa ini ada stalagmit dan stalagtit. Sebenernya kalau ditelusuri goa ini masih panjang, karena pas nyampe luar saya sempet tanya ke penduduk sekitar panjang goa tersebut sekitar 100 meter. Puas dengan rasa penasaran akhirnya saya keluar dari goa, dan kami melanjutkan perjalanan pulang.

dalam goa

ini juga masih di dalam goa
Kalau menurut kami pantai ini biasa saja tapi yang bikin seru adalah tracking nya yang harus naik turun bukit, melewati “gank monyet”, dan tentu saja hutan atau yang lebih pantas disebut “hutan batu”. Jadi, siapkan ransel kalian dan menujulah ke Greweng! (bersambung...)


Tuesday, 2 October 2012

1 hari 3 pantai #1 : Pantai Wedi Amba


(Kamis, 27 sept 2012) Awalnya tujuan kami adalah pantai Greweng, tapi berhubung masih ragu jadinya kami berhenti di pantai Wedi Amba terlebih dahulu. Pantai Wedi Amba, pertama kali denger nama pantai ini yang ada dibenak ane yaitu pantai dengan pasir (wedi) yang luas (amba). Tapi nyatanya di pantai ini lebih luas batu karang nya dibandingkan pasirnya. Kalau temen ane bilang sich “harusnya nama pantai ini ganti jadi pantai Karang Amba”. Pantai Wedi Amba sendiri terletak di Jepitu, Kec. Giri Subo, kab. Gunung Kidul atau sekitar 67 km dari kota Jogja.

Wedi Ombo
Untuk menuju ke pantai ini sangatlah mudah. Dari kota Jogja menuju kota Wonosari melalui jalan Wonosari, lalu menuju ke arah Tepus (pantai Baron). Dari pertigaan Tepus ambil jalan ke kiri (di sini ada papan petunjuk) ikuti saja jalan tersebut, kalau ragu jangan sungkan bertanya kepada penduduk sekitar.
Kalau kalian ke sini pas laut sedang surut kalian akan bisa melihat beberapa biota laut yang hidup di pantai ini.
biota laut di sekitar pantai Wedi Amba
Pantai ini terbagi menjadi 2 bagian, barat dan timur. Bagian baratlah yang pantas disebut Wedi Amba karena memang benar-benar pasir, sedangkan sebelah timur bisa juga kita sebut sebagai “Karang Amba” karena isinya cuma batu karang. Tapi pantai sebelah timurlah yang berhasil menarik kami ke sana, alhasil kami pun menyusuri pantai ke arah timur. Di batu karang ini sering digunakan untuk memancing oleh penduduk sekitar atau kalian yang hobi mancing.

ini bukan di Bulan tapi ini di Wedi Amba..
Untuk masuk ke pantai ini kalian cukup membayar Rp. 3.000,- saja, tapi ketika kemarin kami ke sini TPR nya tutup jadinya gratis. Dan kami tidak tahu apa alasannya ketika weekday TPR nya selalu tutup, soalnya dulu ane juga pernah ke Pantai Pulang Syawal pas weekday TPR juga tutup. Apakah TPR buka jika hanya weekend dan hari libur saja? Entahlah.. (bersambung)

Dieng, Tanah Cantik Tempat Bersemayam Para Dewa (Dieng via Petungkriyono)


Dieng, cita-cita saya dari kecil pengen ke sini *kasian banget. Berawal dari obrolan gak serius sama temen akhirnya kami pun merencanakan kapan kita ke Dieng? Awalnya kami berempat akan menuju Dieng pada hari selasa 4 september 2012, tapi akhirnya kami putuskan berangkat hari sabtu 1 september 2012 dan hanya berdua. Lalu yang dua kemana? Setelah kami pikir matang gak mungkin kami bawa dua temen kami yang berkelamin perempuan ini, soalnya kami sendiri pun jujur gak tau seperti apa medan jalannya. Setelah bertanya medan dan jalur sama kakak saya yang kebetulan beberapa hari sebelumnya pergi ke Dieng via Petungkriyono akhirnya kami berangkat dari rumah (rumah kami ada di kecamatan Doro – kabupaten Pekalongan *ini perlu diperjelas!!) sekitar jam 7.30 pagi, dan ini merupakan pertama kalinya saya ke Petungkriyono, padahal deket banget sama rumah ane. Perjalanan ke petungkriyono kalian akan melewati hutan lindung dan kalo dapet rejeki kalian bisa bertemu dengan monyet yang sedang bergelantungan di pohon, soalnya ketika kami melintasi jalan tersebut kami sempat melihat beberapa ekor  monyet yang sedang bergelantungan di pohon sedang mencari makan. Awalnya jalannya bagus dan mulus tapi tetap saja menanjak dan berkelok karena Petungkriyono ini berada di dataran tinggi, tapi setelah sampai di Kayu Puring (desa sebelum kota kecamatan Petungkriyono) jalannya rusak dan belum diperbaiki *gak tau kalo sekarang. Selama perjalanan pun kami disuguhi pemandangan yang luar biasa, sekeliling kami hanya hijau hijau dan hijau. Maksudnya hijau karena sekeliling kami hanya hutan hehehe. Setelah sampai di kota kecamatan Petungkriyono kami sempat berhenti untuk membeli bensin, dan jangan harap ada pom bensin di sini bahkan orang yang jualan bensin pun agak tersamar karena penjualnya tidak mendisplay barang dagangan mereka layaknya penjual bensin di daerah bawah. Setelah mendapatkan apa yang kami cari, kami sempet berhenti sebentar untuk menikmati pemandangan. Dari kejauhan terlihatlah puncak Slamet yang masih dikelilingi awan, subhanallah baru kali ini melihat pemandangan seperti ini betapa besarnya ke-Agungan Tuhan.

Perjalanan kami lanjutkan kembali dan di sini kami sudah dihadapkan dengan medan yang agak menantang karena jalanan sudah banyak yang rusak, menanjak, dan berkelok. Setelah keluar dari kawasan kabupaten Pekalongan kami pun sampai di kawasan kabupaten Banjarnegara, sampai di daerah kalo gak salah namanya Wanayasa tanjakannya sudah mulai ajib banget! Tanjakannya tinggi+tikungannya itu lho yang bikin ngeri. Selama sekitar 3 jam dalam perjalanan dan dengan susah payah kami melewati jalan rusak, tanjakan+tikungan tajam, turunan, tanjakan lagi, tikungan tajam lagi, turunan, tikungan, tanjakan, turunan dan begitu seterusnya akhirnya kami sampai juga di Dieng Kulon yang masuk kecamatan batur kabupaten Banjarnegara yang juga berbatasan langsung dengan kabupaten Wonosobo.

pendapa Soeharto Whitlam
Jujur saja kami bingung mau kemana dulu soalnya wisata di Dieng tersebar dan tidak satu kompleks, akhirnya kami memutuskan untuk ke Candi Arjuna terlebih dahulu. Di sini terdapat beberapa candi yang masih berdiri dengan kokohnya menantang panasnya matahari dan dinginnya Dieng, setelah puas berkeliling kompleks candi kami berjalan mengikuti petunjuk menuju museum Kaliasa. Setelah sampai kaliasa kami pun bertanya-tanya “ini udah tutup atau emang libur ya?“, akhirnya kamipun balik ke parkiran yang ada di sekitar candi Arjuna. Kami istirahat sebentar sambil menikmati kopi panas untuk mengusir dinginnya Dieng sambil berpikir “habis ini kita mau kemana?”, kawah Sikidang! haha.
Museum Kaliasa

kompleks Candi Arjuna



Kami pun langsung menuju Sikidang yang tentu sebelumnya bertanya kepada petugas jalan menuju Sikidang lewat mana? Dituntunlah kami ke jalan yang benar menuju Sikidang, dalam perjalanan dan sesampainya di parkiran Sikidang sudah mulai tercium bau belerang yang menyengat. Kalo kata orang tua saya kenapa namanya Sikidang, karena kawahnya bisa muncul dimana saja atau gampangnya kawahnya bisa loncat-loncat/berpindah-pindah seperti Kidang (Rusa). Tapi itu dulu, sekarang sepertinya sudah gak loncat-loncat lagi seperti Kidang karena udah capek #EH. Ada satu kawah yang berukuran besar, mengeluarkan bau belerang yang sangat menyengat dan tentu saja air lumpur yang mendidih. Jujur aja pas saya liat kawah itu rasa takut saya seketika muncul, gak berani deket-deket soalnya sekitar mulut kawah hanya dibatasi oleh kayu yang sudah mulai lapuk.



dombanya ginuk-ginuk :D
Setelah puas di Sikidang kami pun melanjutkan perjalanan menuju desa Dieng Wetan yang sudah masuk kecamatan Kejajar kabupaten Wonosobo. Dan tujuan utama kami adalah Telaga Warna, sebenarnya telaga ini ada di pinggir jalan, hanya saja pinggir jalan yang langsung berbatasan dengan telaga tertutup semak belukar dan beberapa pohon *kalo yang ini kayaknya emang sengaja biar wisatawan masuk telaganya bayar. Setelah membeli tiket kamipun langsung masuk ke kawasan telaga, di sini sejuk banget karena kanan-kiri kita adalah pohon pinus. Kami pun tracking menyusuri sisi barat telaga, oya jangan kaget kalo ada pasangan nekat pacaran di sini tapi jujur aja saya gak habis pikir kok berani-beraninya mereka pacaran di tempat yang banyak mitos gak enaknya. Bukan apa-apa meskipun kita gak percaya mitos tapi kita tetep harus menghormati mitos tersebut juga kesopanan harus dijaga. Setelah menemukan spot yang asik kami pun istirahat dan menikmati sejuknya angin serta indah alam ini. Setelah beristirahat kami pun balik menuju titik awal kami tracking dan kini giliran menyusuri sisi timur telaga, awalnya kami menuju telaga Pengilon tapi telaga ini sudah tertutup semak. Oya di sekitar telaga Warna ini ada beberapa goa seperti goa Semar, goa jaran, dan goa sumur. Tak jarang ada beberapa orang yang melakukan ritual di goa-goa tersebut. Hari pun sudah sore dan kami memutuskan untuk pulang, jujur saja kami masih ingin menikmati indahnya “Rumah Para Dewa” ini, tapi apa daya ada kepentingan yang menunggu kami di hari esok.
sisi barat Telaga Warna



edelweis, oleh-oleh khas Dieng
Pulangnya kami lewat Petungkriyono lagi, dan jujur saja selama di Petungkriyono kami agak takut karena jalan yang sepi tanpa penerangan lampu. Bukan cuma itu, kami pun harus lewat hutan yang konon masih ada Harimau-nya. Selama perjalan pulang kami cuma diem gak mengeluarkan sepatah katapun, dalam hati saya dan pastinya temen ane juga berdoa dan berpikir positif.