Thursday, 31 May 2012

Candi Plaosan


Berawal dari liat foto yang diambil UKM Fotografi kampus ane waktu hunting bareng, akhirnya saya sempetin nyari informasi tentang candi Plaosan lewat internet maupun langsung tanya temen saya yang kebetulan rumahnya daerah Kalasan. Dengan niat dan semangat 45 *halah* akhirnya saya dan Distian nekat mencari candi ini, sempet nyasar tapi cuma dikit hahahaaa dan nyasar inilah yang bikin sensasi dalam mbolang.

Untuk menuju ke Candi Plaosan sangat lah mudah, karena Candi Plaosan dekat dengan Candi Prambanan. Dari Candi Prambanan kita tinggal ke arah utara, dan sampai di ujung Candi Prambanan ada pertigaan. Kita tinggal belok kanan dan ikutin aja jalan itu, lurus terus tapi kalo ada tikungan jangan lupa belok biar gak nabrak!

Ada 2 kompleks di Candi ini, yaitu Candi Plaosan Lor (utara) dan Candi Plaosan Kidul (selatan). Berhubung kami belum tahu kalo ada 2 kompleks, kami hanya mengunjungi kompleks Candi Plaosan Utara.

Candi Plaosan yang dibangun Rakai Pikatan memiliki beberapa keunikan dibanding candi lain, yaitu dua candi utamanya yang "kembar" serta teras yang permukaannya halus. Di candi ini juga terdapat figur Vajrapani, Amitbha, dan Prajnaparamitha.



Kompleks Plaosan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Kedua candi itu memiliki teras berbentuk segi empat yang dikelilingi oleh dinding, tempat semedi berbentuk gardu di bagian barat serta stupa di sisi lainnya. Karena kesamaan itu, maka kenampakan Candi Plaosan Lor dan Kidul hampir serupa jika dilihat dari jauh sehingga sampai sekarang Candi Plaosan juga sering disebut candi kembar.

Bangunan Candi Plaosan Lor memiliki halaman tengah yang dikelilingi oleh dinding dengan pintu masuk di sebelah barat. Pada bagian tengah halaman itu terdapat pendopo berukuran 21,62 m x 19 m. Pada bagian timur pendopo terdapat 3 buah altar, yaitu altar utara, timur dan selatan. Gambaran Amitbha, Ratnasambhava, Vairochana, dan Aksobya terdapat di altar timur. Stupa Samantabadhara dan figur Ksitigarbha ada di altar utara, sementara gambaran Manjusri terdapat di altar barat.


Salah satu Arca di Dalam Candi Plaosan

Candi Plaosan Kidul juga memiliki pendopo di bagian tengah yang dikelilingi 8 candi kecil yang terbagi menjadi 2 tingkat dan tiap-tiap tingkat terdiri dari 4 candi. Ada pula gambaran Tathagata Amitbha, Vajrapani dengan atribut vajra pada utpala serta Prajnaparamita yang dianggap sebagai "ibu dari semua Budha". Beberapa gambar lain masih bisa dijumpai namun tidak pada tempat yang asli. Figur Manujri yang menurut seorang ilmuwan Belanda bernama Krom cukup signifikan juga bisa dijumpai.

Bagian Bas relief candi ini memiliki gambaran unik pria dan wanita. Terdapat seorang pria yang digambarkan tengah duduk bersila dengan tangan menyembah serta figur pria dengan tangan vara mudra dan vas di kaki yang dikelilingi enam pria yang lebih kecil. Seorang wanita ada yang digambarkan sedang berdiri dengan tangan vara mudra, sementara di sekelilingnya terdapat buku, pallet dan vas. Krom berpendapat bahwa figur pria wanita itu adalah gambaran patron supporter dari dua wihara.


Seluruh kompleks Candi Plaosan memiliki 116 stupa perwara dan 50 candi perwara. Stupa perwara bisa dilihat di semua sisi candi utama, demikian pula candi perwara yang ukurannya lebih kecil. Bila berjalan ke bagian utara, anda bisa melihat bangunan terbuka yang disebut Mandapa. Dua buah prasati juga bisa ditemui, yaitu prasasti yang di atas keping emas di sebelah utara candi utama dan prasasti yang ditulis di atas batu di Candi Perwara baris pertama.

Salah satu kekhasan Candi Plaosan adalah permukaan teras yang halus. Krom berpendapat teras candi ini berbeda dengan teras candi lain yang dibangun di masa yang sama. Menurutnya, hal itu terkait dengan fungsi candi kala itu yang diduga untuk menyimpan teks-teks kanonik milik para pendeta Budha. Dugaan lain yang berasal dari para ilmuwan Belanda, jika jumlah pendeta di wilayah itu sedikit maka mungkin teras itu digunakan sebagai sebuah wihara (tempat ibadah umat Budha).



Jika melihat sekeliling candi, anda akan tahu bahwa Candi Plaosan sebenarnya merupakan kompleks candi yang luas. Hal itu dapat dilihat dari adanya pagar keliling sepanjang 460 m dari utara ke selatan serta 290 m dari barat ke timur, juga interior pagar yang terdiri atas parit sepanjang 440 m dari utara ke selatan dan 270 m dari barat ke timur. Parit yang menyusun bagian interior pagar itu bisa dilihat dengan berjalan ke arah timur melewati sisi tengah bangunan bersejarah ini.


Source : Yogyes



Wednesday, 30 May 2012

Gunung Api Purba

Setelah puas menikmati pemandanga di Mangunan, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Kami pulang tidak melewati jalan Imogiri, tapi kami nyoba untuk lewat jalur Pathuk. Di tengah perjalanan pulang kami tidak memutuskan untuk pulang, tapi kami memutuskan untuk pergi ke Gunung Api Purba. Dengan modal pas-pasan *opo iki???* kami nekat menuju GAP, setelah sampai perempatan Polsek yang deket Bukit Bintang (gak tau namanya daerah mana) kami belok kanan dan menuju daerah Sambipitu (kalo gak salah) pokoknya yang ada petunjuk ke Nglanggeran. Kami terus saja mengikuti jalan itu, dan akhirnya kami nyasar! ok nyasar lagi nyasar lagi, tapi inilah sensasinya mbolang.

Pos 1
Awalnya jalannya bagus dan mulus, tapi makin lama jalan nya jadi rusak dan jarang ada rumah penduduk, akhirnya kami putuskan untuk bertanya ke warga sekitar. setelah kami bertanya dan melewati sepajang jalan rusak+hutan akhirnya kami pun sampai ke GAP. Kami sampai di GAP sudah sekitar jam 3 sore mungkin, lupa!!

Kami pun langsung naik ke atas karena sudah tidak sabar untuk melihat sunset, hahay.. Kami kira jalan menuju enak dan sangat nyaman, eh ternyata jalannya penuh tantangan. Dalam perjalanan kita akan melewati sebuah  lokasi yang oleh masyarakat sekitar disebut Song Gudel ( Kandang Gudel/Anak Kebo ), karena dilokasi tersebut terdapat batuan besar yang “disangga” batuan yang lebih kecil dan membentuk seperti goa, yang menyerupai kandang. Pemandangan sekitar lokasi berupa gundukan batuan besar dan ada variasi vegetasi disekitarnya, seperti sengon dan akasia. 

Setelah melewati Song Gudel kita akan melewati zona Senthong (celah dua bukit), pada lokasi ini wisatawan akan disuguhkan dengan himpitan dua tebing yang harus dilalui agar sampai ke lokasi selanjutnya. Dilokasi in wisatawan turut diuji, karena jarak antara celah awal sampai dengan jarak celah akhir cukup jauh kurang lebih 50m dan harus terus merayap. Setelah melewati zona Senthong kita akan sampai di Pos 1, dari pos ini kita bisa melihat pemandangan yang sungguh menakjubkan.

Sebenernya kami pingin naik ke Pos 2, akan tetapi karena sudah sore dan mendung akhirnya kami memutuskan untuk turun dan dalam perjalan turun kami pu kehujanan *eaaaaa!! Kalau mau ke sini harus hati-hati karena banyak batu vulkanik yang agak tajam dan minim petunjuk.

Pulangnya kami beli bensin di rumah dekat kawasan wisata GAP dan sempat bertanya jalan pulang.

Q : "Bu, ini kalo mau ke Jogja lewat jalan ini bisa gak?"
A : "Lah tadi masnya lewat mana, emang dari mana?"
Q : "Ituloh bu yang jalan wonosari, trus ada petujunk arah Nglanggeran. tadi kami dari arah Dlingo bu."
A : "Lah itu tadi di perempatan polsek kan tinggal lurus aja mas, trus ikutin jalan aja. Jalannya juga udah bagus, nanti kalo mau pulang ke Jogja nya ikutin jalan ini aja mas."
Q : "Lah gak tau aku bu, tadi ada gak ada petunjuk ke Nglanggeran e cuma ada petunjuk arah Ngoro Oro"
*LALU KAMI PAMIT PULANG*

Bukit Ngoro Oro, Bukit 1000 Tower Relay TV
Ok! ini bisa dijadiin pengalaman dengan ambil jalan yang jauh, muter, rusak dan salah! Ingat kata pepatah "MALU BERTANYA SESAT DI JALAN!!" dan sudah saya buktiin..!!

Untuk menuju ke GAP sangat lah mudah (tentunya kalo lewat jalur yang benar) kita tinggal mengikuti jalan Wonosari, dan sampai di perempatan Polsek Pathuk kita belok kanan (ke arah Ngoro Oro) dan tinggal ikutin jalan saja. Bingung dan takut tersesat? tanyalah ke warga sekitar!


Tuesday, 29 May 2012

Kebun Buah Mangunan, Mana Buahnya?


Berawal dari nyimak tulisan yang ditulis di blog mas Wijna, saya jadi penasaran dengan tempat ini. Nyari info gimana cara kita buat menuju ke tempat ini, akhirnya nemulah jalannya *halah! Kalo dari Jogja kita tinggal lewat Jalan Imogiri ( lupa yang Barat ato Timur, pokoknya yang deket terminal Giwangan :D ) lurus aja terus sampe ketemu Kantor Kecamatan Imogiri. Sebelum lapangan parkir Pajimatan Imogiri, ada jalan berbelok ke arah kanan. Nah ikuti saja jalan itu sekitar 8 km untuk sampai ke Desa Mangunan. Kalau dihitung, dari kota Jogja ke Desa Mangunan, berjarak sekitar 25 km.

ini di Indonesia lho :D

Perjalanan tidak semulus yang kami kira, hampir sempet putus asa dan sempet berfikir untuk balik ke jogja. Tapi dengan tekad, semangat dan rasa percaya diri *iki ngomong opo yooo????* akhirnya kami tetep nyari MANGUNAN! ok! setelah sempet nyasar beberapa kali dan akhirnya pemirsa ketemulah tempat ini. Perjuangan gak sampe di sini, setelah bayar tiket masuk kami pun menuju tempat yang ditunjukkan oleh petugas. Kalau di tempat itu bisa lihat pemandangan yang syahdu. Kami kira jalan nya mulus dan bagus, ternyata eh ternyata benar-benar keluar dari pemikiran kami. Jalan yang agak rusak dan ada beberapa tanjakan, sebenernya untuk motor atau kendaraan yang lagi sehat kuat aja nanjak. Lah ini motor butut ane yang dalam keadaan sakit ( udah lama gak diservice ) disuruh dan dipaksa lewat jalan rusak+tanjakan yang aduhai, alhasil gak gak gak gak kuat dan temen ane terpaksa jalan kaki.

Tapi begitu sampai ditempat itu sungguh takjub! Seluas mata memandang hanya ada warna hijau. Nah yang saya bingung, ini kan namanya KEBUN BUAH. Terus mana buah nya? Pas saya ke sana sama sekali gak liat pohon yang sedang berbuah, mungkin lagi gak musim kali ya.

Monday, 28 May 2012

Menikmati Sunset Dari Bukit Hargodumilah


Siang yang panas dan bingung mau ngapain, akhirnya ane dan temen ane mutusin buat muter-muter Kota Jogja tanpa tujuan yang jelas! haha.. Sorenya mumpung cuaca cerah dan langit begitu cantik, akhirnya kami pun memutuskan untuk menuju Bukit Hargodumilah atau yang sering disebut Bukit Bintang.

Langit Nan Cantik Dari Bukit Bintang

Hargodumilah, atau sering disebut sebagai "Bukit Bintang", merupakan suatu tempat di mana terhampar pemandangan kota djogja dan sekitarnya dari sini. Eksotisme yang terpampang di sela-sela perjalanan akan memaksa setiap orang untuk berhenti sejenak, menikmati luasnya mata memandang. 

Pada saat siang hari, di mana sang mentari masih setia memandangi bumi Gunungkidul, Gunung Merapi,Gunung Merbabu, Gunung Sindoro dan Sumbing berdiri tegak memamerkan keindahan di kejauhan sana. Dan takkan mengecewakan saat mengunjungi Hargodumilah di kala senja menyapa. Sunset di atas kota djogja tersenyum manis menggelorakan jiwa. Keindahan tanpa henti meski sang surya tak lagi mengudara karena kerlap-kerlip kota Yogyakarta datang menggantikan lengsernya sang senja yang terlelap di peraduannya. 

Lukisan Tuhan Nan Indah :)
Bukit Hargodumilah merupakan salah satu pesona Gunungkidul yang mendapat perhatian serius dari pemerintah. Ruas jalan di bukit ini diperluas sebagai arena parkir para pengunjung yang ingin mendalami keindahan dari bukit yang berbatasan dengan kabupaten Bantul ini. Bagi para pengunjung, jangan khawatir karena tidak membawa bekal, karena di kawasan Hargodumilah sudah berjejer mulai dari warung-warung kecil sampai restoran dengan nuansa romantis yang menyediakan kebutuhan kuliner anda. 


Langitnya Kayak Terbakar :D

Hargodumilah, tempat bagi anda yang ingin melepas sejenak beban setelah seharian beraktifitas. Sebuah tempat yang akan kembali menyegarkan jiwa dan hati.


Kelap Kelip Lampu Kota Jogja :D

Untuk menuju ke tempat ini sangatlah muda, dari Kota Jogja kita tinggal menuju ke Jalan Wonosari. Nanti pasti bakal ketemu, pokoknya sebelum sampai perempatan Polsek (gak tau namanya apaan) itu lah area Bukit Bintang. Atau kalo pingin lihat pemandangan yang lebih indah agak ke atas dikit aja, dari perempatan Polsek belok kanan ikutin jalan dan silahkan cari posisi yang enak untuk menikmati sunset :)

*NB : Foto-foto diambil sekitar bulan April ( ini pun kalo gak salah inget! hahaha.. )




Sunday, 27 May 2012

Kotagede, Sisa Kejayaan Mataram Islam



Kotagede merupakan saksi bisu dari tumbuhnya Kerajaan Mataram Islam yang pernah menguasai hampir seluruh Pulau Jawa. Makam para pendiri Kerajaan Mataram Islam, reruntuhan tembok benteng, dan peninggalan lain bisa kita temukan di Kotagede. Berbagai peninggalan sejarah seperti makam para pendiri kerajaan, Masjid Kotagede, rumah-rumah tradisional dengan arsitektur Jawa yang khas, toponim perkampungan yang masih menggunakan tata kota jaman dahulu, hingga reruntuhan benteng bisa ditemukan di Kotagede.
Ukiran Pintu Masuk Kompleks Makam Raja

Pasar Kotagede

Tata kota kerajaan Jawa biasanya menempatkan kraton, alun-alun dan pasar dalam poros selatan - utara. Kitab Nagarakertagama yang ditulis pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14) menyebutkan bahwa pola ini sudah digunakan pada masa itu. Pasar tradisional yang sudah ada sejak jaman Panembahan Senopati masih aktif hingga kini. Setiap pagi legi dalam kalender Jawa, penjual, pembeli, dan barang dagangan tumpah ruah di pasar ini. Bangunannya memang sudah direhabilitasi, namun posisinya tidak berubah. Bila ingin berkelana di Kotagede, Anda bisa memulainya dari pasar ini lalu berjalan kaki ke arah selatan menuju makam, reruntuhan benteng dalam, dan beringin kurung.


Kompleks Makam Pendiri Kerajaan

Berjalan 100 meter ke arah selatan dari Pasar Kotagede, kita akan menemukan kompleks makam para pendiri kerajaan Mataram Islam yang dikelilingi tembok yang tinggi dan kokoh. Gapura ke kompleks makam ini memiliki ciri arsitektur Hindu. Setiap gapura memiliki pintu kayu yang tebal dan dihiasi ukiran yang indah. Beberapa abdi dalem berbusana adat Jawa menjaga kompleks ini 24 jam sehari.
Kita akan melewati 3 gapura sebelum sampai ke gapura terakhir yang menuju bangunan makam. Untuk masuk ke dalam makam, kita harus mengenakan busana adat Jawa (bisa disewa di sana). Pengunjung hanya diperbolehkan masuk ke dalam makam pada Hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat pukul 08.00 - 16.00. Untuk menjaga kehormatan para pendiri Kerajaan Mataram yang dimakamkan di sini, pengunjung dilarang memotret / membawa kamera dan mengenakan perhiasan emas di dalam bangunan makam. Tokoh-tokoh penting yang dimakamkan di sini meliputi: Sultan Hadiwiijaya, Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati, dan keluarganya.


Masjid Kotagede

Berkelana ke Kotagede tidak akan lengkap jika tidak berkunjung ke Masjid Kotagede, masjid tertua di Yogyakarta yang masih berada di kompleks makam. Setelah itu tak ada salahnya untuk berjalan kaki menyusuri lorong sempit di balik tembok yang mengelilingi kompleks makam untuk melihat arsitekturnya secara utuh dan kehidupan sehari-hari masyarakat Kotagede.


Masjid Kotagede



Rumah Tradisional

Persis di seberang jalan dari depan kompleks makam, kita bisa melihat sebuah rumah tradisional Jawa. Namun bila mau berjalan 50 meter ke arah selatan, kita akan melihat sebuah gapura tembok dengan rongga yang rendah dan plakat yang yang bertuliskan "cagar budaya". Masuklah ke dalam, di sana Anda akan melihat rumah-rumah tradisional Kotagede yang masih terawat baik dan benar-benar berfungsi sebagai rumah tinggal.


Kedhaton

Berjalan ke selatan sedikit lagi, Anda akan melihat 3 Pohon Beringin berada tepat di tengah jalan. Di tengahnya ada bangunan kecil yang menyimpan "watu gilang", sebuah batu hitam berbentuk bujur sangkar yang permukaannya terdapat tulisan yang disusun membentuk lingkaran: ITA MOVENTUR MUNDU S - AINSI VA LE MONDE - Z00 GAAT DE WERELD - COSI VAN IL MONDO. Di luar lingkaran itu terdapat tulisan AD ATERN AM MEMORIAM INFELICS - IN FORTUNA CONSOERTES DIGNI VALETE QUIDSTPERIS INSANI VIDETE IGNARI ET RIDETE, CONTEMNITE VOS CONSTEMTU - IGM (In Glorium Maximam). Entah apa maksudnya, barangkali Anda bisa mengartikannya untuk kami?
Dalam bangunan itu juga terdapat "watu cantheng", tiga bola yang terbuat dari batu berwarna kekuning-kuningan. Masyarakat setempat menduga bahwa "bola" batu itu adalah mainan putra Panembahan Senapati. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa benda itu sebenarnya merupakan peluru meriam kuno.


Reruntuhan Benteng

Panembahan Senopati membangun benteng dalam (cepuri) lengkap dengan parit pertahanan di sekeliling kraton, luasnya kira-kira 400 x 400 meter. Reruntuhan benteng yang asli masih bisa dilihat di pojok barat daya dan tenggara. Temboknya setebal 4 kaki terbuat dari balok batu berukuran besar. Sedangkan sisa parit pertahanan bisa dilihat di sisi timur, selatan, dan barat.


Berjalan-jalan menyusuri Kotagede akan memperkaya wawasan sejarah terkait Kerajaan Mataram Islam yang pernah berjaya di Pulau Jawa. Selain itu, Anda juga bisa melihat dari dekat kehidupan masyarakat yang ratusan tahun silam berada di dalam benteng kokoh.
Berbeda dengan kawasan wisata lain, penduduk setempat memiliki keramahan khas Jawa, santun, dan tidak terlalu komersil. Di Kotagede, Anda takkan diganggu pedagang asongan yang suka memaksa (hawkers). Ini memang sedikit mengejutkan, atau lebih tepatnya menyenangkan. Siapa juga yang butuh pedagang asongan yang suka memaksa?





Source : YogYes