Monday, 5 November 2012

Candi Banyunibo


Sebenarnya perjalanan ini kami lakukan sekitar bulan Mei, tapi baru kali ini kepikiran buat posting tentang candi Banyunibo. Awalnya tujuan kami adalah candi Abang dan Candi Ijo, tapi berhubung kami kurang informasi lokasi kedua candi itu maka kami memutuskan untuk ke candi Banyunibo.

Perjalanan kami tak semulus yang kami bayangkan, sama seperti jalan aspal yang kami lalui.Rusak dan banyak lubang di sana-sini (gak tahu kalo sekarang). Kami pun sempat nyasar karena memang awalnya kami sama sekali belum tahu letak candi ini, setelah bertanya ke penduduk sekitar ternyata kami kebablasan dan memang candi ini tidak terlihat jelas karena tertutup pohon-pohon yang berada di ladang warga sekitar.

Untuk menuju ke lokasi candi ini sebenarnya gampang-gampang susah, dari Jogja kita cukup menuju ke arah timur (menyusuri jalan Jogja - Solo) sampai di pasar Prambanan kita belok kanan (arah Piyungan), ikuti saja jalan Jogja - Piyungan nanti pas ketemu pertigaan (yang menuju Ratu Boko dan mulai di sini jalan agak rusak) kita ambil kiri dan ikuti saja jalan desa itu. Setelah bertemu perempatan (yang kalau belok kiri kita menuju Ratu Boko) tetep lurus saja, nanti akan ketemu jembatan kecil langsung kita belok kanan (dari dekat jembatan kecil ini jalannya berupa tanah).

 Suasana di candi ini sangat sepi sekali, jarang ada pengunjung yang datang ke sini. Petugas? Waktu kami ke sini hanya ada seorang satpam yang sedang bertugas. Di depan kompleks candi ini terbentang sawah yang masih luas, sedangkan kanan – kiri kompleks ini berupa ladang tebu. Dan candi adalah tempat yang paling asik buat menjauh dari hiruk pikuk dan ruwetnya kota Jogja hahaha..

candi utama



Sekilas Tentang Candi Banyunibo
Candi Banyunibo (Bahasa Jawa; air yang jatuh atau menetes) merupakan candi Budha yang berada tidak jauh dari Candi (Istana) Ratu Boko, yaitu berada di sebelah timur kota Jogja ke arah Wonosari. Candi ini pada sekitar abad ke-9 saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Bagian atas candi ini memilki stupa yang menjadi ciri khas candi Budha. Candi ini diketemukan dalam keadaan runtuh kemudian  mulai digali dan diteliti pada tahun 1940-an.



puing candi perwara


Candi Banyunibo merupakan bangunan suci Budha yang kaya hiasan (ornament). Hampir pada setiap bagian candi diisi oleh bermacam-macam hiasan dan relief, meskipun bagian yang satu dengan yang lain sering ditemukan motif hiasan yang sama. Candi utama menghadap ke barat dan terletak diantara sawah dan ladang tebu. Di seekitar candi juga terdapat puing-puing yang diperkiranakan adalah candi perwara atau candi pendamping.

Friday, 2 November 2012

Timur Ujung Negara


Pantai Ujung Negara berada di desa Ujung Negara, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang atau sekitar 7km dari kota Batang. Apabila kalian dari kota Batang cukup menuju ke arah timur, dan sampai di SPBU desa Bakalan nanti akan ada sebuah gerbang yang bertuliskan “Pantai Ujung Negara”, dari sini langsung saja belok kiri dan ikuti jalan desa. Untuk masuk ke pantai ini kita cukup membayar Rp. 3.000,- (weekday) dan Rp. 6.000,- (weekend dan hari libur). Dan kali ini saya tidak akan membahas pantai Ujung Negara yang sudah dibuka untuk wisata, melainkan timur pantai Ujung Negara yang masih sepi.

Berawal dari bengkel, dimulailah cerita ini *halah*. Siang yang terik mengantarkan kami ke sebuah bengkel untuk mengganti onderdil motor saya, nah di sinilah pemikiran kami menuju Ujung Negara itu muncul. Jadi karena keluarga temen saya (si Yaenudin) yang beberapa bulan lalu abis liburan ke pantai yang katanya ada binatang semacam di Taman Safari dan perginya tanpa Yaenudin, akhirnya memunculkan rasa penasaran juga *yang ternyata ini salah info.

Berangkatlah kami menuju pantai Ujung Negara, sekitar 30 menit kami pun sampai di parkiran Ujung Negara. Pas kami sampai sini sepi, loket pun sudah atau memang tutup yaiyalah orang sampai sini udah sore! Sampai parkiran atas gak sengaja kami melihat pantai yang sepi, akhirnya kami pun menuju pantai yang sepi itu. Dari parkiran jalannya mulus beraspal lalu taraaaaa tanah merah yang kering *krik..krik..krik.. Awalnya kami mau putar balik, tapi emang dasarnya ane orang nekat yaudah tetep tancap dan sampai bawah. Di sini tidak ada parkiran, tapi masih bisa ditemui beberapa penduduk sekitar yang sedang mencari rumput atau berladang. Motor kami parkirkan di sebelah motor penduduk sekitar, dari sini kami menuruni bukit yang tidak terlalu tinggi mengikuti jalan setapak dan tertutup semak. Sampai pantai langsung merengut gara-gara banyak sampah, kalo sampah seperti batang kayu sich gak apa-apa tapi ini juga banyak sampah plastik yang gak tau berasal darimana?


Kamipun berjalan ke timur menyusuri pantai, dalam perjalanan kami menemukan satu pohon yang tumbuh di sekitar pantai. Melihat pohon itu bayangan saya langsung menuju pantai Pok Tunggal yang ada di Gunung Kidul, yups pohon yang tumbuh di sini sangat mirip sekali dengan pohon yang tumbuh di Pok Tunggal *ach kangen Gunung Kidul. Masih terus menyusuri pantai dan kami menemukan batu karang yang mengingatkan saya sama pantai Wedi Ombo, mirip siiich.


Terus berjalan ke arah timur, kami bertemu dengan pantai yang lumayan panjang, dan gak tau itu masih masuk kawasan wisata Ujung Negara atau tidak. Hari semakin sore dan kami pun memutuskan untuk pulang ke Pekalongan.

Thursday, 1 November 2012

Curug Genting, "Sang Perawan" Dari Desa Bawang


Curug Genting berada di wilayah Kecamatan Blado Kabupaten Batang (Jawa Tengah), atau sekitar 30 km dari kota Batang. Dari kota Batang kita langsung menuju ke Bandar yang berada di selatan kota batang, lalu menuju ke Blado yang berjarak sekitar 25 km. Dari ibu kota kecamatan Blado kita bisa menyusuri jalan desa yang beraspal menuju desa Bawang, yang berjarak sekitar 5 km. Curug Genting berada di petak 49o Hutan Lindung Tertutup (HLT) RPH Kembanglagit, BPKH Bandar.

Inilah perjalanan kami ber-5 (Nafish, Heri, Risky, Sigit, dan tentunya saya Yoga cowok yang paling cakep se-antero-Nusantara-tapi-bo’ong). Perjalanan yang rencananya hari Kamis (25 Okt) akhirnya diundur sampai hari Sabtu (27 Okt), gak tau kenapa diundur mungkin karena saya kagak bisa ikut kali yeee?? *GR dan perjalanan yang awalnya direncanakan jam 7 pagi berakhir dengan ngaret sampai jam 9 *krik..krik..krik..

Kami pun langsung menuju ke sebuah minimarket di Bandar (Batang) yang kami jadikan meet point, sekalian kami membeli beberapa persedian selama perjalanan. Karena jangan harap ada toko atau warung di sekitar curug. Perjalanan dari Bandar menuju desa terakhir sebelum sampai curug memakan waktu sekitar 25-30 menit. Sampai di desa terakhir kami pun langsung menitipkan kendaraan kami kepada penduduk sekitar, dan dimulai lah perjalanan yang bener-bener jalan kaki. Sebenarnya di atas juga ada tempat parkir, tapi tidak ada yang jaga dan jalan beraspal juga sudah mulai tertutup tanah serta rumput. Jalan beraspal? Yups, menurut si Nafish kawasan curug ini pernah dibuka untuk wisata umum, tapi sejak beberapa tahun yang lalu ditutup. Setelah ane cari info kesana-kemari ternyata bener, curug ini pernah dibuka untuk wisata dan sekitar tahun 2009-an wisata ini ditutup dengan alasan rugi, who know’s? Tapi kalau menurut ane dan beberapa temen mengira tidak hanya alasan rugi saja sehingga pengelola menutup kawasan wisata ini.

Selama perjalanan menuju curug kita akan disuguhi hutan pinus dan panorama alam yang indah, serta udara yang sejuk. Dan betapa beruntungnya kami karena dalam perjalanan kami pun sempat melihat burung Elang Jawa yang sedang bertengger di atas pohon, tapi sayang waktu saya mau motret tu burung malah terbang. Sampai di parkiran kami sempat istirahat sebentar untuk mengumpulkan tenaga lagi, dan kami sempat bingung juga karena ada 3 cabang jalan. Beruntung ada penduduk sekitar yang baru turun pulang dari mencari burung (dan semoga bukan burung yang dilindungi pemerintah).

Selesai beristirahat kami pun melanjutkan perjalanan, kali ini bukan jalan beraspal-yang-tertutup-tanah-serta-rumput lagi, melainkan anak tangga yang terbuat dari semen-yang-sudah-mulai-rusak-dan-tertutup-semak. Setelah menaiki anak tangga sampailah kita di gerbang menuju curug, dari gerbang ini kita kembali dihadapkan dengan anak-tangga-yang-terbuat-semen-yang-sudah-mulai-rusak-dan-tertutup-semak tapi kali ini kita tidak naik melainkan turun!!

"sang perawan"

Sepanjang perjalanan menyusuri anak tangga kami disuguhi tebing batu yang bener-bener T.O.P begete, oiya di sini kita tidak boleh menyentuh dinding tebing (sudah ada tulisannya lho). Dari kejauhan suara dan rupa dari “sang perawan” pun sudah terlihat, begitu cantik dan derasnya air mengalir sehingga menimbulkan nada-nada yang begitu indah #eaaaaa.. Sesampainya di bawah kami istirahat sebentar dan dilanjutkan sesi narsis.

kalo udah liat ini berarti hampir sampai
Kami tidak dapat berlama-lama di sana karena mendung yang menggelantung, padahal saya masih betah di sini. Sampai di depan gerbang menuju curug benar saja kami disambut rintik hujan, dan dalam perjalanan menuju pemukiman penduduk kami ditemani kabut serta rintik hujan. Segar rasanya. Sampai di rumah penduduk kami istirahat sebentar sambil menunggu hujan reda, gak lama kemudian hujan reda dan kami pun pulang menuju Pekalongan.

perjalanan pulang
di depan gerbang masuk
Berat rasanya meninggalkan “sang perawan” dari desa Bawang, ingin rasanya saya berlama-lama denganmu. Belum puas rasanya saya menikmati kemolekan dan suaramu yang merdu. Hei “sang perawan” dari desa Bawang, suatu saat kami akan mengunjungimu lagi..

Wednesday, 31 October 2012

Pulau Terluar Indonesia


Hari Minggu kemarin pas ane lagi mantengin timeline Twitter gak sengaja @TravellerKaskus lagi ngasih kul twit tentang #PulauTerdepanIndonesia, dan berikut beberapa #PulauTerdepanIndonesia yang dibahas.

Indonesia adalah negara kepuluan terbesar di dunia, terdapat ±17.508 pulau, 7.870 telah diberi nama, dan 9.634 belum memiliki nama. Menurut data resmi dan terpercaya terdapat 67 pulau yang langsung berbatasan dengan negara tetangga. Masalah konflik perbatasan, minimnya akses, sarana dan prasarana serta tidak terperhatikannya kesejahteraan masyarakat. Timbul pertanyaan: Bagaimana kita mempertahankan dan memperdayakan pulau-pulau terluar Indonesia (dengan potensi alam yang luar biasa)?

Pulau Rondo ( Sabang, NAD )
sumber: google

Pulau ini tidak berpenduduk dan berbatasan langsung dengan India dan sangat rawan dengan ilegal fishing.

Pulau Berhala ( Serdang Bedagai, SUMUT )
Luas pulau ini ±2,5 km2, tidak berpenghuni, berbatasan langsung dengan Malaysia dan sangat rawan ilegal fishing.
sumber: google
Pulau Sekatung ( Natuna, Kep. Riau )
Pulau dengan luas ±0,3 km2  ini tidak ada penduduknya, berbatasan dengan Vietnam dan sangat rawan ilegal fishing.
sumber: google

Pulau Nipah ( Batam, Riau )
Luas pulau ini ±60 H, tidak berpenduduk dan berbatasn dengan Singapura. 60% pulau ini adalah karang dan 20% pasir, pulau ini sangat rawan tenggelam dan pelayaran internasional.

Pulau Marore ( Sangihe, SULTRA )
Sudah berpenduduk ±640 jiwa, dan memiliki luas ±214,49 km2. Pulau ini berbatasna langsung dengan Filipina dan rawan ilegal fishing.

Pulau Miangas ( Talaud, SULTRA )
Memiliki penduduk ±678 jiwa, luas pulau ini ±3,15 km2, dan pulau ini sudah ada listrik. Miangas berbatasan dengan Filipina dan rawan dengan penyelundupan serta penggunaan mata uang Peso.

Pulau Marampit ( Talaud, SULTRA )
Pulau dengan luas ±12 km2 memiliki penduduk ±1436 jiwa dan berbatasan langsung dengan Filipina serta rawan ilegal fishing.

Pulau Fani ( Raja Ampat, Papua )
Pulau ini sudah berpenduduk dan memiliki luas ±9 km2, berbatasan dengan Island Rep. nan rawan ilegal fishing.

Pulau Fanildo ( Biak Numfor, Papua )
Memiliki luas ±9 km2 dan tidak berpenduduk, pulau ini berbatasan dengan Island Rep. dan rawan ilegal fishing.

Pulau Dana ( Kupang, NTT )
Tidak berpenduduk, berbatasan dengan Australia dan rawan ilegal fishing.

 Pulau Bras ( Biak Numfor, Papua )
Pulau yang memiliki luas ±3375 km2 ini hanya memiliki penduduk ±50 jiwa, berbatasan langsung dengan Island Rep. dan rawan ilegal fishing.

Pulau Batek ( Kupang, NTT )

Berbatasan dengan Timor Leste dan tidak berpenduduk, pulau yang memilki luas ±25ha tidak jarang digunakan Penyu untuk bertelur dan migrasi Lumba-Lumba.Pulau ini rawan dengan ilegal fishing.


Pulau Alor
Pulau ini terletak di ujung timur Kep. Nusa Tenggara, memiliki luas ±2119 km2 dengan titik tertingginya 1839m.

Pulau Nusa Barung ( Jember, JATIM )

Pulau Dolangan, terletak di Laut Sulawesi, berbatasan dengan Malaysia dan Filipina.

Pulau Kisar terletak di Selat Welar ( Maluku ), berbatasan dengan Timor Leste.

Pulau Makalehi, pulau ini berada di laut Sulawesi dan masuk ke wilayah Kabupaten Sangihe, berbatasan dengan Filipina.

Itulah beberapa #PulauTerdepanIndonesia yang memilki kekayaan alam yang luar biasa dan terancam keberadaannya, sebenarnya masih banyak #PulauTerdepanIndonesia yang memilki kekayaan yang luar biasa. Kapan-kapan bakal ane sambung :D

Wednesday, 3 October 2012

1 hari 3 pantai #3 : Pantai Sadeng


Dalam perjalanan pulang kami masih berdebat, mau kemana sekarang? Apakah mau langsung pulang atau mampir lagi? Awalnya kami memutuskan untuk pulang, tapi sampai di tengah jalan dan melihat petunjuk arah menuju pantai Sadeng alhasil kami berubah pikiran dan langsung memutar balik menuju Sadeng. Perjalanan dari Greweng menuju Sadeng memakan waktu sekitar 1,5 jam, agak jauh memang karena sepertinya pantai Sadeng ini sepertinya sudah hampir dekat dengan daerah Wonogiri-Jawa Tengah.

Di tengah perjalanan kami sempat putus asa dan berfikir “ya ampun jalan ini masih panjang dan gak sampai-sampai“, apalagi dengan kondisi jalan yang naik turun serta berliku dan juga samping kami jurang. Tapi dengan tekad dan nekat benar-benar mengalahkan rasa putus asa dan capek, kuncinya cuma satu “nikmatilah perjalanan mu, niscaya engkau akan menikmatinya“ *wuopoh!!

Akhirnya kami pun sampai di TPR pantai Sadeng, dan di sini TPR nya juga tutup alhasil gratis lagi. Perjalanan dari TPR menuju pantai pun masih agak jauh, sekitar 15 menit mungkin, dan sampainya di gerbang pantai sadeng sekilas kami membaca “Pelabuhan Perikanan Sadeng”. Kok pelabuhan? Yups, jadi pantai Sadeng ini juga berfungsi sebagai pelabuhan ikan. Dan pantai di sini bener-bener kecil banget, pasirnya dikit mirip seperti pantai Glagah yang ada di Kulon Progo.

kapal nelayan yang sedang berlabuh
Bedanya, kalau pantai Glagah pasirnya berwarna hitam dan agak panjang, sedang kan sadeng pasirnya berwarna putih dan pendek. Di pantai ini kami berfikir “sangat membosankan”, akhirnya kamipun memutuskan untuk pulang ke Jogja. Jadi ane mohon maaf kalau di sini gak bisa cerita panjang lebar karena memang disini gak ada yang bisa diceritain *penutup yang aneh*. Sampai jumpa di perjalanan berikutnya..  (END)

1 hari 3 pantai #2 : Pantai Greweng


Setelah puas kami menyusuri Wedi Amba akhirnya kami memutuskan untuk menuju ke pantai tujuan awal kami, pantai Greweng. Bermodalkan informasi dari internet dan bertanya kepada penduduk sekitar kami pun bertekad menuju ke pantai ini.

Kami pun berangkat menuju Greweng, kami sempat nyasar ke pantai Jumwok, Jumrok, Jump Rock(?) atau apalah itu namanya saya lupa dan lagi-lagi pantai ini masih jarang dikunjungi oleh wisatawan tapi kami tidak sempat menengok pantai ini karena kami sudah terlalu penasaran sama Greweng. Akhirnya kami pun bertanya kepada penduduk sekitar dan mereka menyarankan kami untuk naik ke atas lagi. Setelah ketemu tanah lapang (yang disebut penduduk sekitar sebagai alun-alun) kami harus belok ke kiri, dan disinilah keraguan itu muncul. Gimana gak ragu coba, gak ada tempat parkir cuy.

Dan lagi, kami bertanya kepada penduduk sekitar yang kebetulan sedang berladang. Kami disarankan untuk meninggalkan motor kami digubuk, awalnya kami ragu apa aman meninggalkan motor di sini? Nanti kalu ada yang nyuri kekmana? Setelah si Ibu meyakinkan kami dengan berkata “aman kok mas, lagian orang sini nyuri motor ya buat apa? lagian nanti petani di sini biasa sampai sore kok mas”. FINE! Setelah keraguan terjawab akhirnya kami melanjutkan perjalanan dengan tracking sekitar 2km atau lebih dan harus menaiki serta menuruni bukit.

samar-samar terlihat air laut
Kami baru berjalan beberapa meter lalu keraguan pun tiba, bukan ragu masalah motor tapi jalan mana yang akan kami ambil? Banyak simpangan cuy, dan lagi-lagi kami bertanya kepada penduduk sekitar. Kami berjalan mengikuti arahan Bapak itu, dan yang gak ane sangka Bapak itu masih tetap memperhatikan kami waktu kami salah belok pun Bapak itu berteriak dengan kencangnya dan sambil menunjuk arah yang benar “salah mas, bukan yang situ tapi yang sana”. Terus berjalan menyusuri jalan setapak yang banyak persimpangan kami pun ragu lagi harus ke arah mana? Lagi, lagi, dan lagi kami bertanya kepada penduduk sekitar yang sedang berladang. Dan sang Ibu berkata “pantainya ada dibalik bukit itu mas, mas nya naik bukit itu trus nanti turun. pantainya udah deket kok”.

"menatap masa depan" #halah
Akhirnya kami menaiki bukit, dari atas bukit samar-samar air laut sudah kelihatan, kami pun berhenti sebentar untuk bersesi narsis dan mengumpulkan sedikit energi yang terkuras. Dalam perjalanan kami menemui sebuah goa, dan kami ragu untuk memasukinya (sebenarnya saya penasaran) dan melanjutkan perjalanan menuju pantai.

Lagi, lagi, lagi, lagi, dan lagi kami bertanya kepada penduduk sekitar karena ragu memilih persimpangan jalan. Setelah ditunjukkan jalan yang benar kami pun tetap menyusuri jalan kenangan *eh bukan! yang bener jalan setapak. Dan samar-samar terdengar deburan ombak yang berarti “kita-sudah-dekat-sama-pantai” ngomong sambil lari, dan mendadak berhenti karena ada sekelompok monyet! iya monyet,  monyet asli..!! Mungkin mereka turun untuk mencari makan. Agak takut juga ketika kami harus melewati gerombolan mereka, pemimpinnya nakutin cuy! Kami sempat disentak sama dia, untung kami gak dikejaaarrr..

Akhirnya nyampai juga di pantai, pantainya sepi banget gak ada pengunjung kecuali penduduk sekitar yang gak tau lagi ngapain tapi kayaknya lagi nyari rumput laut. Kami istirahat sebentar untuk mengumpulkan energi, setelah energi terkumpul seperti biasa sesi narsis pun tiba dan gak lupa kami menengok sekitar pantai. Setelah puas kami pun memutuskan untuk pulang, melewati “gank monyet” lagi.

pantai yang sepi


kami menyebut ini "Batu Karang naga Laut"

serasa private beach..
Berhubung kami “cerdik” (yang ini bo’ong banget!) akhirnya kami lewat yang satunya, yang agak jauh dari “gank monyet” dan tetep sang pemimpin nyentak kami dengan suaranya yang khas. Selesai dengan “gank  monyet” kami pun berhadapan dengan anjing-penjaga-ladang-yang-sedang-menguasai-jalan-setapak-kami-sambil-menggonggongi-kami. Meskipun di situ ada sang majikan tetep aja kami takut, akhirnya kami minta bantuan kepada sang majikan untuk mengusir si anjing. Dengan santainya si Bapak berkata gak apa-apa mas, anjingnya gak gigit kok”, dengan PD ane jawab “lha itu anjingnya di tengah jalan pak, kalo ngejar gimana?”. Dan si Bapak yang satunya berkata “gimana anjingnya gak gonggong mas, itu tongkat yang njenengan bawa ditinggal aja. dia mikirnya njenengan mau mukul jadinya dia gonggong“. Mengikuti saran si bapak akhirnya kami melanjutkan perjalanan pulang dengan tetep mengawasi si anjing siapa tahu tiba-tiba dia mengejar kami, dan tentunya kami gak lewat jalan setapak melainkan lewat tengah ladang yang sedang digarap si Bapak *maaf pak terpaksa.

Kehebohan gak cuma terjadi ketika kami harus bertemu denga “gank monyet” dan anjing-penjaga-ladang-yang-sedang-menguasai-jalan-setapak-kami-sambil-menggonggongi-kami, tapi juga karena kami nyasar dan lupa jalan pulang. Muter-muter gak jelas dan bingung akhirnya kami memutuskan untuk balik ke tempat ketika kami ragu untuk mengambil arah mana yang benar[?]. Akhirnya kami pun menemukan jalan yang benar untuk pulang, sebenarnya jalan itu sudah ada di depan tapi karena agak ketutup semak jadinya gak kelihatan.

Dalam perjalanan pulang kami sempat mampir di goa yang kami lewati tadi, dan rasa peanasaran mengalahkan rasa takut. Saya coba masuki goa tersebut dengan agak ragu, dan temen Saya? gak usah ditanya karena dia takut. Pas sudah di mulut goa yang saya rasain sepi banget, agak ragu juga untuk melangkah masuk lebih dalam lagi. Tapi sekali lagi, penasaran mengalahkan rasa takut! Saya tetep aja masuk tapi tetep gak terlalu jauh dari mulut goa, di dalam goa ini ada stalagmit dan stalagtit. Sebenernya kalau ditelusuri goa ini masih panjang, karena pas nyampe luar saya sempet tanya ke penduduk sekitar panjang goa tersebut sekitar 100 meter. Puas dengan rasa penasaran akhirnya saya keluar dari goa, dan kami melanjutkan perjalanan pulang.

dalam goa

ini juga masih di dalam goa
Kalau menurut kami pantai ini biasa saja tapi yang bikin seru adalah tracking nya yang harus naik turun bukit, melewati “gank monyet”, dan tentu saja hutan atau yang lebih pantas disebut “hutan batu”. Jadi, siapkan ransel kalian dan menujulah ke Greweng! (bersambung...)


Tuesday, 2 October 2012

1 hari 3 pantai #1 : Pantai Wedi Amba


(Kamis, 27 sept 2012) Awalnya tujuan kami adalah pantai Greweng, tapi berhubung masih ragu jadinya kami berhenti di pantai Wedi Amba terlebih dahulu. Pantai Wedi Amba, pertama kali denger nama pantai ini yang ada dibenak ane yaitu pantai dengan pasir (wedi) yang luas (amba). Tapi nyatanya di pantai ini lebih luas batu karang nya dibandingkan pasirnya. Kalau temen ane bilang sich “harusnya nama pantai ini ganti jadi pantai Karang Amba”. Pantai Wedi Amba sendiri terletak di Jepitu, Kec. Giri Subo, kab. Gunung Kidul atau sekitar 67 km dari kota Jogja.

Wedi Ombo
Untuk menuju ke pantai ini sangatlah mudah. Dari kota Jogja menuju kota Wonosari melalui jalan Wonosari, lalu menuju ke arah Tepus (pantai Baron). Dari pertigaan Tepus ambil jalan ke kiri (di sini ada papan petunjuk) ikuti saja jalan tersebut, kalau ragu jangan sungkan bertanya kepada penduduk sekitar.
Kalau kalian ke sini pas laut sedang surut kalian akan bisa melihat beberapa biota laut yang hidup di pantai ini.
biota laut di sekitar pantai Wedi Amba
Pantai ini terbagi menjadi 2 bagian, barat dan timur. Bagian baratlah yang pantas disebut Wedi Amba karena memang benar-benar pasir, sedangkan sebelah timur bisa juga kita sebut sebagai “Karang Amba” karena isinya cuma batu karang. Tapi pantai sebelah timurlah yang berhasil menarik kami ke sana, alhasil kami pun menyusuri pantai ke arah timur. Di batu karang ini sering digunakan untuk memancing oleh penduduk sekitar atau kalian yang hobi mancing.

ini bukan di Bulan tapi ini di Wedi Amba..
Untuk masuk ke pantai ini kalian cukup membayar Rp. 3.000,- saja, tapi ketika kemarin kami ke sini TPR nya tutup jadinya gratis. Dan kami tidak tahu apa alasannya ketika weekday TPR nya selalu tutup, soalnya dulu ane juga pernah ke Pantai Pulang Syawal pas weekday TPR juga tutup. Apakah TPR buka jika hanya weekend dan hari libur saja? Entahlah.. (bersambung)

Dieng, Tanah Cantik Tempat Bersemayam Para Dewa (Dieng via Petungkriyono)


Dieng, cita-cita saya dari kecil pengen ke sini *kasian banget. Berawal dari obrolan gak serius sama temen akhirnya kami pun merencanakan kapan kita ke Dieng? Awalnya kami berempat akan menuju Dieng pada hari selasa 4 september 2012, tapi akhirnya kami putuskan berangkat hari sabtu 1 september 2012 dan hanya berdua. Lalu yang dua kemana? Setelah kami pikir matang gak mungkin kami bawa dua temen kami yang berkelamin perempuan ini, soalnya kami sendiri pun jujur gak tau seperti apa medan jalannya. Setelah bertanya medan dan jalur sama kakak saya yang kebetulan beberapa hari sebelumnya pergi ke Dieng via Petungkriyono akhirnya kami berangkat dari rumah (rumah kami ada di kecamatan Doro – kabupaten Pekalongan *ini perlu diperjelas!!) sekitar jam 7.30 pagi, dan ini merupakan pertama kalinya saya ke Petungkriyono, padahal deket banget sama rumah ane. Perjalanan ke petungkriyono kalian akan melewati hutan lindung dan kalo dapet rejeki kalian bisa bertemu dengan monyet yang sedang bergelantungan di pohon, soalnya ketika kami melintasi jalan tersebut kami sempat melihat beberapa ekor  monyet yang sedang bergelantungan di pohon sedang mencari makan. Awalnya jalannya bagus dan mulus tapi tetap saja menanjak dan berkelok karena Petungkriyono ini berada di dataran tinggi, tapi setelah sampai di Kayu Puring (desa sebelum kota kecamatan Petungkriyono) jalannya rusak dan belum diperbaiki *gak tau kalo sekarang. Selama perjalanan pun kami disuguhi pemandangan yang luar biasa, sekeliling kami hanya hijau hijau dan hijau. Maksudnya hijau karena sekeliling kami hanya hutan hehehe. Setelah sampai di kota kecamatan Petungkriyono kami sempat berhenti untuk membeli bensin, dan jangan harap ada pom bensin di sini bahkan orang yang jualan bensin pun agak tersamar karena penjualnya tidak mendisplay barang dagangan mereka layaknya penjual bensin di daerah bawah. Setelah mendapatkan apa yang kami cari, kami sempet berhenti sebentar untuk menikmati pemandangan. Dari kejauhan terlihatlah puncak Slamet yang masih dikelilingi awan, subhanallah baru kali ini melihat pemandangan seperti ini betapa besarnya ke-Agungan Tuhan.

Perjalanan kami lanjutkan kembali dan di sini kami sudah dihadapkan dengan medan yang agak menantang karena jalanan sudah banyak yang rusak, menanjak, dan berkelok. Setelah keluar dari kawasan kabupaten Pekalongan kami pun sampai di kawasan kabupaten Banjarnegara, sampai di daerah kalo gak salah namanya Wanayasa tanjakannya sudah mulai ajib banget! Tanjakannya tinggi+tikungannya itu lho yang bikin ngeri. Selama sekitar 3 jam dalam perjalanan dan dengan susah payah kami melewati jalan rusak, tanjakan+tikungan tajam, turunan, tanjakan lagi, tikungan tajam lagi, turunan, tikungan, tanjakan, turunan dan begitu seterusnya akhirnya kami sampai juga di Dieng Kulon yang masuk kecamatan batur kabupaten Banjarnegara yang juga berbatasan langsung dengan kabupaten Wonosobo.

pendapa Soeharto Whitlam
Jujur saja kami bingung mau kemana dulu soalnya wisata di Dieng tersebar dan tidak satu kompleks, akhirnya kami memutuskan untuk ke Candi Arjuna terlebih dahulu. Di sini terdapat beberapa candi yang masih berdiri dengan kokohnya menantang panasnya matahari dan dinginnya Dieng, setelah puas berkeliling kompleks candi kami berjalan mengikuti petunjuk menuju museum Kaliasa. Setelah sampai kaliasa kami pun bertanya-tanya “ini udah tutup atau emang libur ya?“, akhirnya kamipun balik ke parkiran yang ada di sekitar candi Arjuna. Kami istirahat sebentar sambil menikmati kopi panas untuk mengusir dinginnya Dieng sambil berpikir “habis ini kita mau kemana?”, kawah Sikidang! haha.
Museum Kaliasa

kompleks Candi Arjuna



Kami pun langsung menuju Sikidang yang tentu sebelumnya bertanya kepada petugas jalan menuju Sikidang lewat mana? Dituntunlah kami ke jalan yang benar menuju Sikidang, dalam perjalanan dan sesampainya di parkiran Sikidang sudah mulai tercium bau belerang yang menyengat. Kalo kata orang tua saya kenapa namanya Sikidang, karena kawahnya bisa muncul dimana saja atau gampangnya kawahnya bisa loncat-loncat/berpindah-pindah seperti Kidang (Rusa). Tapi itu dulu, sekarang sepertinya sudah gak loncat-loncat lagi seperti Kidang karena udah capek #EH. Ada satu kawah yang berukuran besar, mengeluarkan bau belerang yang sangat menyengat dan tentu saja air lumpur yang mendidih. Jujur aja pas saya liat kawah itu rasa takut saya seketika muncul, gak berani deket-deket soalnya sekitar mulut kawah hanya dibatasi oleh kayu yang sudah mulai lapuk.



dombanya ginuk-ginuk :D
Setelah puas di Sikidang kami pun melanjutkan perjalanan menuju desa Dieng Wetan yang sudah masuk kecamatan Kejajar kabupaten Wonosobo. Dan tujuan utama kami adalah Telaga Warna, sebenarnya telaga ini ada di pinggir jalan, hanya saja pinggir jalan yang langsung berbatasan dengan telaga tertutup semak belukar dan beberapa pohon *kalo yang ini kayaknya emang sengaja biar wisatawan masuk telaganya bayar. Setelah membeli tiket kamipun langsung masuk ke kawasan telaga, di sini sejuk banget karena kanan-kiri kita adalah pohon pinus. Kami pun tracking menyusuri sisi barat telaga, oya jangan kaget kalo ada pasangan nekat pacaran di sini tapi jujur aja saya gak habis pikir kok berani-beraninya mereka pacaran di tempat yang banyak mitos gak enaknya. Bukan apa-apa meskipun kita gak percaya mitos tapi kita tetep harus menghormati mitos tersebut juga kesopanan harus dijaga. Setelah menemukan spot yang asik kami pun istirahat dan menikmati sejuknya angin serta indah alam ini. Setelah beristirahat kami pun balik menuju titik awal kami tracking dan kini giliran menyusuri sisi timur telaga, awalnya kami menuju telaga Pengilon tapi telaga ini sudah tertutup semak. Oya di sekitar telaga Warna ini ada beberapa goa seperti goa Semar, goa jaran, dan goa sumur. Tak jarang ada beberapa orang yang melakukan ritual di goa-goa tersebut. Hari pun sudah sore dan kami memutuskan untuk pulang, jujur saja kami masih ingin menikmati indahnya “Rumah Para Dewa” ini, tapi apa daya ada kepentingan yang menunggu kami di hari esok.
sisi barat Telaga Warna



edelweis, oleh-oleh khas Dieng
Pulangnya kami lewat Petungkriyono lagi, dan jujur saja selama di Petungkriyono kami agak takut karena jalan yang sepi tanpa penerangan lampu. Bukan cuma itu, kami pun harus lewat hutan yang konon masih ada Harimau-nya. Selama perjalan pulang kami cuma diem gak mengeluarkan sepatah katapun, dalam hati saya dan pastinya temen ane juga berdoa dan berpikir positif.

Friday, 21 September 2012

Libur Lebaran: Pagilaran


Hari ke-4 libur lebaran ane dan temen2 waktu SMA meluangkan waktu untuk berkumpul dan berlibur bersama, ya itung2 menjalin tali silaturahmi yang selama ini sempat terputus karena kesibukan masing2 *halah. Dan liburan tahun ini kami memutuskan untuk pergi ke Agrowisata Kebun Teh Pagilaran yang berada di Blado, Kabupaten Batang (Jawa Tengah). Bukan masalah tempat yang mewah dan lokasi yang jauh, yang penting kami bisa berkumpul.
Rencana perjalanan awal jam 9 pagi, tapi akhirnya molor sampai sekitar jam 10an. Perjalanan kami mulai dari meet point yaitu di rumah teman kami (Wiki) yang selama ini memang kami jadikan bascampe karena letak nya yang sangat mudah, yaitu di depan SMA tempat kami belajar dulu. Perjalanan kami tempuh sekitar 1,5 - 2 jam, dan jujur meskipun ini deket dari rumah ane dan tiap kali berangkat ke Jogja ane lewat Blado baru kali ini ane mengunjungi dan melihat Pagilaran *yang ini gak usah dibahas. Sampai di kawasan Pagilaran, perjalanan ditemani oleh jalan yang mirip lintasan roller coaster dan hijau nya daun teh. Pagilaran sendiri berada di ketinggian 1.000 – 1.500mdpl.
Setelah memakirkan motor kami langsung berjalan kaki menuju air terjun (curug) Binorong, perjalanan menuju curug ini tidak lah jauh kalau dari area parkir mungkin sekitar 10 menit. Kondisi jalan menuju curug ini berupa tanah dan menuru, dan setelah melewati perkebunan cengkeh akhirnya kami sampai di curug ini. Tapi sayang air di curug ini sedikit mungkin karena musim kemarau, dan yang bikin kecewa lagi adalah banyak nya sampah plastik yang dibuang di sekitar perkebunan cengkeh dan areal curug
Curug Binorong ini mempunyai ketinggian sekitar 5 meter, dan sampai saat ini belum ada investor yang yang mengembangkan curug ini dengan baik sehingga fasilitas di sini seperti toilet dan tempat sampah belum ada.
curug nya airnya dikit beudh..
Sesampainya di curug kami istirahat sebentar dan tentu saja melakukan sesi narsis, setelah puas bernarsis ria kami pun memutuskan untuk naik ke atas (area parkir). Sebelum melanjutkan perjalanan kami beristirahat sebentar dan mengisi perut yang kosong, setelah beristirahat kami memutuskan untuk pulang yang sebelumnya kami mampir dulu ke kebun teh. Setelah kami memakirkan motor kami pun meneruskan perjalanan ke area kebun teh dengan berjalan kaki. Setelah berjalan mengelilingi kebun teh kami pun menemukan area yang cukup lapang untuk beristirahat dan tentu saja bernarsis ria. Sungguh disayangkan, di area kebun teh pun banyak sekali sampah plastik yang berceceran. Puas dan capek bernarsis ria akhirnya kami pun pulang ke rumah.


Menurut sejarah, Perkebunan Teh Pagilaran ini dibuat oleh salah satu maskapai milik Belanda pada tahun 1880. Lalu pada tahun 1922 dibeli oleh pemerintah Inggris dan digabung dengan Pemanukan Tjiasem Land’s PT ( P & T LAND’S PT ), tahun 1964 Hak Guna P & T Land’s dan diambil alih oleh pemerintah Indonesia. Pada tanggal 23 Mei 1964 oleh pemerintah Indonesia diserahkan kepada Fakultas Pertanian UGM dengan tujuan Peningkatan Pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi disamping sebagai perusahaan dengan nama PN Pagilaran yang kemudian pada tanggal 1 Januari 1974 statusnya menjadi PT Pagilaran. Pt Pagilaran mendapat tambahan areal Segayung Utara menjadi bagian kebun Pagilaran pada tanggal 5 Mei 1977 dengan surat No. 14/hgu/da/77.

Saturday, 9 June 2012

Pasar Kangen Jogja 2012

PASAR KANGEN JOGJA 2012 MENGHADIRKAN NUANSA PASAR TRADISIONAL. Kegiatan ini merupakan salah satu program unggulan Taman Budaya Yogyakarta yang diadakan setiap setahun sekali. Kegiatan ini akan diselenggarakan pada tanggal 19 - 24 Juni 2012, bertempat di kompleks Taman Budaya Yogyakarta. Pokoke dijamin ngangeni, menawarkan pesona makanan tradisi yang harus dipelihara seperti Dawet, Slondok, Srabi Solo, Wajik, Kipo, Klepon, Cenil, Gethuk, Thiwul, Jenang, Besengek, Sego Gudangan, Mangut Lele, hingga Kerupuk Telo. Selain makanan tradisi, juga akan menampilkan beragam atraksi kesenian ntradisional yang unik dan langka. Dan untuk masuk ke Pasar Kangen tidak dipungut biaya a.k.a GRATIS..!!

Info lengkap follow : @PasarKangen_

Selasa, 19 Juni 2012
Pukul 16.00 - 17.30 WIB           :  Pembukaan; Reog Wayang dari Kulon Progo
Pukul 19.00 - 20.00 WIB           :  Panembromo
Pukul 19.00 - 21.00 WIB           :  Lansiados Band

Rabu, 20 Juni 2012
Pukul 14.00 - 15.00 WIB           :  Cokekan
Pukul 16.00 - 17.00 WIB           :  Kesenian Jathilan Turonggo Mudo
Pukul 19.00 - 20.00 WIB           :  Kesenian Angklung
Pukul 20.00 - 21.00 WIB           :  Kesenian Tayub

Kamis, 21 Juni 2012
Pukul 14.00 - 15.00 WIB           :  Cokekan
Pukul 16.00 - 17.00 WIB           :  Kesenian Jathilan Agung Mudho
Pukul 19.00 - 20.00 WIB           :  Pemutaran Dokumentasi TBY
Pukul 20.00 - 21.00 WIB           :  Andhe – Ande Lumut

Jum’at, 22 Juni 2012
Pukul 14.00 - 15.00 WIB           :  Cokekan
Pukul 16.00 - 17.00 WIB           :  Kesenian Jathilan Kudho Pamukti
Pukul 19.00 - 20.00 WIB           :  Sanggar Tari Kusuma Aji
Pukul 20.00 - 21.00 WIB           :  Toni Boster Band

Sabtu, 23 Juni 2012
Pukul 14.00 - 15.00 WIB           :  Kesenian Cing Cing Goling
Pukul 16.00 - 17.00 WIB           :  Kesenian Jathilan dari Mlati, Sleman
Pukul 19.00 - 20.00 WIB           :  Himpunan Mahasiswa Tari UNY
Pukul 20.00 - 21.00 WIB           :  Wayang Wong

Minggu, 24 Juni 2012
Pukul 10.30 - 11.00 WIB           :  Pentas Musik oleh AFC
Pukul 13.00 - 15.00 WIB           :  Strek dari Kalibawang Kulon Progo
Pukul 16.00 - 17.30 WIB           :  Kesenian Daerah IKPM Sulawesi Selatan
Pukul 20.00 - 21.00 WIB           :  Wayang Kulit oleh Ki Rusmadi


Thursday, 31 May 2012

Candi Plaosan


Berawal dari liat foto yang diambil UKM Fotografi kampus ane waktu hunting bareng, akhirnya saya sempetin nyari informasi tentang candi Plaosan lewat internet maupun langsung tanya temen saya yang kebetulan rumahnya daerah Kalasan. Dengan niat dan semangat 45 *halah* akhirnya saya dan Distian nekat mencari candi ini, sempet nyasar tapi cuma dikit hahahaaa dan nyasar inilah yang bikin sensasi dalam mbolang.

Untuk menuju ke Candi Plaosan sangat lah mudah, karena Candi Plaosan dekat dengan Candi Prambanan. Dari Candi Prambanan kita tinggal ke arah utara, dan sampai di ujung Candi Prambanan ada pertigaan. Kita tinggal belok kanan dan ikutin aja jalan itu, lurus terus tapi kalo ada tikungan jangan lupa belok biar gak nabrak!

Ada 2 kompleks di Candi ini, yaitu Candi Plaosan Lor (utara) dan Candi Plaosan Kidul (selatan). Berhubung kami belum tahu kalo ada 2 kompleks, kami hanya mengunjungi kompleks Candi Plaosan Utara.

Candi Plaosan yang dibangun Rakai Pikatan memiliki beberapa keunikan dibanding candi lain, yaitu dua candi utamanya yang "kembar" serta teras yang permukaannya halus. Di candi ini juga terdapat figur Vajrapani, Amitbha, dan Prajnaparamitha.



Kompleks Plaosan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Kedua candi itu memiliki teras berbentuk segi empat yang dikelilingi oleh dinding, tempat semedi berbentuk gardu di bagian barat serta stupa di sisi lainnya. Karena kesamaan itu, maka kenampakan Candi Plaosan Lor dan Kidul hampir serupa jika dilihat dari jauh sehingga sampai sekarang Candi Plaosan juga sering disebut candi kembar.

Bangunan Candi Plaosan Lor memiliki halaman tengah yang dikelilingi oleh dinding dengan pintu masuk di sebelah barat. Pada bagian tengah halaman itu terdapat pendopo berukuran 21,62 m x 19 m. Pada bagian timur pendopo terdapat 3 buah altar, yaitu altar utara, timur dan selatan. Gambaran Amitbha, Ratnasambhava, Vairochana, dan Aksobya terdapat di altar timur. Stupa Samantabadhara dan figur Ksitigarbha ada di altar utara, sementara gambaran Manjusri terdapat di altar barat.


Salah satu Arca di Dalam Candi Plaosan

Candi Plaosan Kidul juga memiliki pendopo di bagian tengah yang dikelilingi 8 candi kecil yang terbagi menjadi 2 tingkat dan tiap-tiap tingkat terdiri dari 4 candi. Ada pula gambaran Tathagata Amitbha, Vajrapani dengan atribut vajra pada utpala serta Prajnaparamita yang dianggap sebagai "ibu dari semua Budha". Beberapa gambar lain masih bisa dijumpai namun tidak pada tempat yang asli. Figur Manujri yang menurut seorang ilmuwan Belanda bernama Krom cukup signifikan juga bisa dijumpai.

Bagian Bas relief candi ini memiliki gambaran unik pria dan wanita. Terdapat seorang pria yang digambarkan tengah duduk bersila dengan tangan menyembah serta figur pria dengan tangan vara mudra dan vas di kaki yang dikelilingi enam pria yang lebih kecil. Seorang wanita ada yang digambarkan sedang berdiri dengan tangan vara mudra, sementara di sekelilingnya terdapat buku, pallet dan vas. Krom berpendapat bahwa figur pria wanita itu adalah gambaran patron supporter dari dua wihara.


Seluruh kompleks Candi Plaosan memiliki 116 stupa perwara dan 50 candi perwara. Stupa perwara bisa dilihat di semua sisi candi utama, demikian pula candi perwara yang ukurannya lebih kecil. Bila berjalan ke bagian utara, anda bisa melihat bangunan terbuka yang disebut Mandapa. Dua buah prasati juga bisa ditemui, yaitu prasasti yang di atas keping emas di sebelah utara candi utama dan prasasti yang ditulis di atas batu di Candi Perwara baris pertama.

Salah satu kekhasan Candi Plaosan adalah permukaan teras yang halus. Krom berpendapat teras candi ini berbeda dengan teras candi lain yang dibangun di masa yang sama. Menurutnya, hal itu terkait dengan fungsi candi kala itu yang diduga untuk menyimpan teks-teks kanonik milik para pendeta Budha. Dugaan lain yang berasal dari para ilmuwan Belanda, jika jumlah pendeta di wilayah itu sedikit maka mungkin teras itu digunakan sebagai sebuah wihara (tempat ibadah umat Budha).



Jika melihat sekeliling candi, anda akan tahu bahwa Candi Plaosan sebenarnya merupakan kompleks candi yang luas. Hal itu dapat dilihat dari adanya pagar keliling sepanjang 460 m dari utara ke selatan serta 290 m dari barat ke timur, juga interior pagar yang terdiri atas parit sepanjang 440 m dari utara ke selatan dan 270 m dari barat ke timur. Parit yang menyusun bagian interior pagar itu bisa dilihat dengan berjalan ke arah timur melewati sisi tengah bangunan bersejarah ini.


Source : Yogyes